Badai Ida: Wilayah Pesisir AS Ini Rasakan Dampak Lebih Buruk daripada Badai Katrina

Internasional Peristiwa

tobapos.co – Badai Ida menyebabkan kehancuran massal di Grand Isle, sebuah kota wilayah Louisiana Amerika Serikat (AS), yang menanggung kekuatan penuh dari cuaca ekstrem badai Kategori 4 pada Minggu (29/8/2021).

Sekitar setengah dari properti di kota pesisir berpenduduk sekitar 1.400 itu rusak berat atau hancur.

Beberapa rumah kehilangan atap atau dinding, sementara yang lain sudah menjadi tumpukan puing.

Jalan raya utama pada Selasa (31/8/2021) hampir seluruhnya tertutup pasir yang dibawa oleh gelombang pasang. Semua tiang listrik miring atau ambruk.

Kepala Polisi Grand Isle, Scooter Resweber mencoba bertahan dari Badai Ida dengan rekan-rekan petugasnya di dalam kantor polisi Minggu (29/8/2021).

Badai Ida mendarat tepat di sebelah barat dengan embusan angin yang tercatat pada 172 mph (277 kph) dan air laut membanjiri pulau itu.

“Saya meminta semua petugas polisi pindah ke gedung untuk keselamatan, dan kemudian semua kekacauan terjadi,” kata Resweber kepada AP yang mencapai kota melalui helikopter.

“Atap mulai terlepas. Kami bisa melihat gedung-gedung berterbangan berkeping-keping di seberang jalan dari kami. Itu adalah sesuatu yang tidak ingin Anda lihat lagi.”

“Ketika atap mulai terlepas dan bangunan bergetar, kami semua ketakutan. Kami adalah pria dewasa tetapi Anda memiliki rasa takut dalam diri Anda, tidak peduli apa pekerjaan Anda, dan kami merasakannya.”

Cynthia Lee Sheng, presiden Jefferson Parish, tempat Grand Isle berada, menggambarkan pulau itu sebagai “tidak dapat dihuni.”

Dia mengatakan setiap bangunan rusak sampai batas tertentu, ada banyak kerusakan pada sistem tanggul, dan bau gas alam yang kuat (dikhawatirkan karena kebocoran pipa) tetap ada.

“Jadi itu tidak baik,” ujarnya.

Resweber dan petugas lainnya keluar Senin (30/8/2021) pagi untuk menilai kerusakan, rumah kepala polisi termasuk di antara ratusan yang hancur.

Mereka juga memeriksa hampir 100 warga yang telah memutuskan untuk tetap di tinggal. Dia mengatakan banyak warga yang menyayangkan keputusan itu, meski tidak ada yang terluka parah.

“Saya telah mengatasi badai lainnya — Badai Isaac, Katrina, Gustav, Ike — dan ini tidak ada bandingannya sama sekali. Ini adalah yang terburuk. … Sungguh menakjubkan bahwa tidak ada seorang pun (di sini) yang terbunuh atau bahkan terluka parah.” (REP/kompas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *