Penanganan Stunting Di Pematang Siantar Butuh Dana Tambahan

Headline Sekitar Kita

tobapos.co-Penanganan pelayanan kesehatan stunting harus terfokus dan memiliki anggaran biaya yang cukup untuk pembiayaan bahan obat-obatan. Termasuk juga tambahan biaya pembelian bahan vitamin dan honor tenaga medis. 

Akhir -akhir ini tingkat kesehatan stunting pada anak kian menurun.  

“Nah,  kendala penanganan pelayanan stunting di Pematang Siantar disebabkan kekurangan anggaran biaya”,  ungkap Walikota Pematang Siantar diwakili Kadis Kesehatan yang dipaparkan Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Anna Rosita Saragih Mks pada saat pertemuan dengan sejumlah wartawan Pemprov Sumut dalam kunjungan, yang diterima Asisten Administrasi Umum Pemko Siantar, Pardamean Silaen di gedung Aula Balai Kota Pematang Siantar, Rabu (26/10/2022).

 “Keperluan tambahan biaya operasional dan pembelian tambahan vitamin buat anak bayi dibawah lima tahun (balita) sangat dibutuhkan”, ujar Anna. 

Sejauh ini dana yang digunakan,  sebut Anna menjelaskan,  beraumber dana APBD P Siantar dan sumber biaya  Dana Alokasi Khusus (DAK). Tentu biayanya sangat terbatas. 

Karena itu butuh biaya  tambahan yang sumbernya dana bantuan dari berbagai pihak termasuk dari APBD Pemprov Sumut atau orang tua asuh,  katanya.

Tentu dana itu diperlukan untuk membayar tenaga honorer dan juga dana bayar  sejumlah kader disetiap Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), ungkap Anna lagi. 

Sebelumnya pelayanan penanganan stunting ditangani sejak dini,  Yaitu penanganan pelayanan sejak ibu hamil dan bayi baru lahir. Tata caranya,  ibu hamil diberikan vitamin dan diusia bayi lahir dirawat dan diberikan vitamin yang sumber biayanya dari Dana Alokasi Khusus, jelasnya mengakhiri.  

Sedangkan keterangan Kabid Keluarga Sejahtera Dinas Pengendalian Keoendudukan Keluarga Berencana, Saljon Nainggolan MM mengatakan,  angka stunting di Kota Pematang Siantar, terendah nomor dua dari Kabupaten Deli Serdang. 

Menurutnya  perkembangan stunting disini sesuai data  Pemprovsu menurun dengan posisi pada urutan nomor 2. Setelah Deli Serdang,  rata-ratanya 15 persen.

Diperoleh keterangan, terdampak stunting,  sesuai data diperkirakan  sejumlah 185 orang anak, jelas Saljon dihadapan Asisten Administrasi Umum Pardamean Silaen didampingi Kadis Kominfo Pemprovsu melalui Kabid Pengelola Informasi Publik Diskominfo Iwan Sutani Siregar dan Kadiskominfo Pemko Siantar. 

Sementara menyinggung geliat pariwisata di Pemko Pematang Siantar, Asisten Administrasi Umum Pemko Siantar,  Pardamean Silaen menuturkan,  Pariwisata diwilayah Kota Siantar ditinjau dari kuliner wisata. Pemko Medan melakukan pembinaan dengan merubah sikap dan mental SDM nya dalam melayani market. 

Kuliner wisata ditengah masyarakat  mendominasi, namun pedagangnya dikategorikan orang minoritas. Untuk mengubah mental dan sikap pengelolanya dibimbing dalam peradapan santun dan berbudaya. 

“Misalkan penjual kerupuk harus berbusana dengan budaya muslim”, kata Pardamean. 

Mengakhiri pertemuan, Pardamean Silaen menyebut Kota Pematang Siantar dikeliling Kabupaten Simalungun terdiri dari 8 Kecamatan dan 85 Kelurahan. MM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *