tobapos.co – Eksportir di Sumut mengaku sudah lama resah dengan kebijakan Pelindo 1 Belawan yang memberlakukan aturan Open Stack (O/S) hingga Closing Time(C/T) hanya selama 1×24 jam. Kondisi itu membuat para eksportir menjerit.
Akibatnya, eksportir banyak dirugikan, seperti akan menambah biaya sewa angkutan bila terlambat dari jadwal closing time yang ditentukan, hingga wajib membayar denda (pinalti). (Foto- Bukti penundaan closing time oleh Pelindo 1 Belawan)
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Umum Dewan Pemakai Jasa Angkutan Laut Indonesia (Depalindo) Toto Dirgantoro kepada tobapos.co mengatakan, “Open Stack di Pelabuhan Belawan seharusnya disatukan, sama dengan pelabuhan – pelabuhan lainnya di Indonesia, minimal 5 hari. Saya hanya minta 3×24 jam, saya sudah berkirim surat, saya sudah bertemu Dirut (Pelindo 1 Belawan) yang lama Pak Bambang, dan penggantinya ( Pak Dian ) dan disampaikan akan segera dilakukan perubahan. Tapi setelah Bambang dan Pak Dian pun tidak kunjung ada perubahan,” terangnya. Senin (19/10/2020).
Lanjutnya, “Sekarang Dani Rusli Direktur Utama Pelindo 1 belawan, yang merupakan mantan Direktur Tehnik Pelindo 2, yang juga mantan Dirut JICT, mestinya paham betul berapa lama open stack di JICT yaitu 7 hari free, sedang di Belawan hanya 1 × 24 jam. Kami mendesak, untuk meningkatkan ekspor nasional Sumut semestinya Pelindo 1 turut serta sebagai public service sektor logistik dengan merubah open stack dari 1 x 24 jam menjadi 3 x 24 jam. Kalau masalah open stack Itu saja tak bisa melakukan, terus apa peran Pelindo dalam peningkatan ekspor Nasional.” tegas Toto lagi.
Masih jelas Toto, “Ini yang sangat dikeluhkan eksportir, jeda waktu hanya 1x 24 jam dari waktu closing itukan gak wajar, terus kalau kena closing time, itukan kena pinalti, kena (denda) 700 atau 800 ribu rupiah (per kontainer), ini kan sudah terjadi high cost, bagaimana mau efisien, bagaimana eksportir bisa bersaing?” tambahnya.
Ditanya kira-kira apa maksud Pelindo 1 Belawan membuat kondisi seperti itu, Toto menjawab, “Karena kalau impor 3 x 24 jam, maka Pelindo akan tarik biaya penumpukan juga untuk 3 hari secara progresive, sedangkan untuk ekspor 3×24 jam hanya pungut penumpukan 1 hari saja.” katanya.
Sambung Toto, “Sekarang kan pemerintah menggalakkan untuk ekspor nasional, Kementerian BUMN juga meminta efisiensi dalam rangka meningkatkan ekspor nasional, sementara masalah open stack aja tidak bisa teratasi. Jadi kita berharap sekali, Depalindo berharap Dani Rusli mantan Dirut JICT pasti paham betul open stack di JICT 7 hari free dan kami hanya minta 3×24 jam. Karena sangat menolong sekali untuk ekonomi pengusaha ekspor di Sumatera Utara.” pinta Toto.
Masih dalam wawancara dengan Toto Dirgantoro, ditanya apakah pihaknya akan melaporkan kondisi ini kepada Presiden Joko Widodo?, dia menjawab, “Kami juga akan berkirim surat lagi bila tidak ada perubahan untuk open stack 3×24 jam. Pasti (Akan menyurati Presiden), karena inikan menyangkut juga tujuan pemerintah melakukan UU Cipta Kerja, semua untuk meningkatkan investasi, pelabuhan itu sebagai pintu gerbang, nah kalau itu juga tidak ikut? hambatannya disitu., kita akan lapor ke Presiden.”
Ditanya apakah kondisi seperti ini juga terjadi di seluruh pelabuhan (internasional) di Indonesia? “Hanya di Belawan (Pelindo 1). Alasannya cuma keterbatasan lahan, seberapa sih keterbatasan lahan itu untuk ekspor, berapa persen ekspornya. Kalau importir numpuk 7 hari itu dibiarin, karena ada pendapatan biaya penumpukan. Nah, kalau ekspor maka dikasih 1x 24 jam, karena kalau 3×24 jam bayarnya cuma 1 hari penumpukan. Sehingga dianggap mereka rugi 2 hari.”
“Pelabuhan itu fasilitas, pelabuhan dulu (dibangun) dengan APBN, itu fasilitas untuk ekspor kita, kita ingin meningkatkan ekspor kita, kondisinya itu. Pelindo (Belawan) hanya melihat satu sisi profit oriented aja. Kenapa Pelindo yang lain bisa, Belawan tak bisa. Sekarang yang dipercaya menteri, Pak Rusli, seharusnya paham betul closing time, kita lihat apa yang akan dia lakukan?”
Kemudian ditanya soal informasi Pelindo 1 Belawan juga kerap menunda closing time? “Kenapa tidak diberikan waktu 3x 24 jam sehingga tidak ada hal – hal demikian. Closing time yang mereka tunda itukan menimbulkan kerugian ekportir, karena apa?, karena harus nginep, kena charge ( denda) lagi. Seharusnya Pelindo memberikan kemudahan.” tutup Toto.
Terkait kondisi ini, pihak Pimpinan Pelindo 1 Belawan yang hendak dikonfirmasi di kantornya belum berhasil, sedangkan Humas di Terminal Kontainer Belawan (Belawan International Container Terminal), Irfan yang dikonfirmasi melalui seluler, mengatakan “Entar ku telpon abang ya, ku konfirmasi ke bagian operasional ya,” jawabnya. Namun setelah itu, hingga berita ini dimuat, Irfan belum kembali memberikan penjelasan.(TP/Sofar Panjaitan)