tobapos.co – Pemprov DKI Jakarta klaim program grebek lumpur yang dilakukan sejauh ini telah membuahkan hasil. Sedikitnya ada 30 waduk dan 13 sungai yang terus dikeruk untuk mengantisipasi banjir pada saat musim hujan.
Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, Juaini Yusuf mengatakan, program grebek lumpur yang dilakukan sejak awal tahun itu sedikitnya telah menyasar ke 30 waduk dan 13 sungai yang merupakan milik Pemerintah Pusat.
Menurutnya, dari hasil sementara yang sudah dikeruk, program gerebek lumpur telah membuahkan hasil yang cukup baik.
Misalnya saja di waduk Pondok Rangon, waduk Cimanggis, Jakarta Timur dan di kali Sunter bagian Cipinang Melayu. Beberapa waktu lalu, kali Sunter siaga satu dan biasanya pemukiman cipinang melayu pasti terendam.
“Kemarin, kita sudah tes, nungguin, ternyata di situ nggak banjir, jadi kali sunter cipinang melayu itu kita alihkan, dibuang ke waduk pondok rangon, waduk cimanggis. Jadi, kita kumpulkan di situ dulu, dipotong gitu kan, kurangi beban dari kali sunter yang ke arah cipinang sehingga di cipinang melayu kemarin tidak terjadi banjir,” kata Juaini Yusuf saat dihubungi, Kamis (12/11/2020).
Selain itu, Juaini juga mencontohkan beberpa lokasi yang telah tersentuh dan masih dilakukan program gerebek lumpur. Diantaranya waduk Ria rio, waduk Babakan, waduk Mangga Bolong di kawasan Jakarta Selatan dan sebagainya.
“Alhamdulilah, lokasi sekitar waduk itu, genangan jadi berkurang,” ungkapnya.
Pengamat Perkotaan Universitas Trisakti, Nirwono Joga mengapresiasi pengerukan lumpur yang dilakukan Pemprov DKI sebagai upaya antisipasi genangan. Namun, hal itu tidak akan banyak membantu mengurangi banjir lokal.
“Persoalan saluran air bukan hanya masalah sendimen lumpur,” ungkapnya .
Nirwono menjelaskan, persoalan saluran air di Jakarta itu disebabkan beberapa hal. Diantaranya yaitu daya tampung saluran yang kecil. Untuk itu dia menyarankan agar dilakukan rehabilitasi secara menyeluruh.
Saluran air mikro, tersier atau lingkungan yang saat ini berdiameter 0,5 meter harus diperbesar minimal 1,5 meter; kemudian saluran air masa, skunder atau kawasan yang berdiameter 1meter diperbesar menjadi 2,5meter; dan makro, primer atau kota yang saat ini berdiameter 1,5 meter harus diperbesar menjadi 3 sampai 5 meter.
Kemudian, lanjut Nirwono, seluruh saluran saling terhubung dengan baik menuju tempat penampungan air seperti danau, atau waduk terdekat.
“Saluran air harus bebas dari jaringan utilitas kabel dan pipa yang tumpang tindih, hatus ditata ulang, misal sebelah kiri khusus untuk jaringa kabel listrik-telepon-serat optik dan sebelah kanan khusus untuk jaringan pipa air bersih-gas-air limbah, tengah khusus untuk saluran air,” pungkasnya. (TP 2)