Tangisan Histeris Istri Kartono.. Pemko Sibolga Dipimpin Jamaluddin Pohan Menang Di Atas Penderitaan Warganya?

Headline Sekitar Kita

tobapos.co – Tjie Mielai alias Ai (75), tak kuasa menahan kesedihan dan pilu hati mendalam melihat rumah dan tempat usahanya dihancurkan. Sambil berteriak dan menangis histeris, Ai nyaris pingsan. Puluhan Satpol PP Pemko Sibolga dan Tentara dari Korem 023/ Kawal Samudra yang berada di lokasi tangkahan Budi Jaya seolah tidak bergeming dan terus melakukan kegiatan arahan atasan mereka.

Tidak peduli sampai habis air mata, Ai menangis, kegiatan mengambil alih lahan Budi Jaya terus berlangsung, malah dengan gagahnya para oknum petugas ini semakin beringas melakukan aksinya. Sejak Jumat 11 November 2022 sampai detik ini.

Cerita Ai yang merupakan istri Kartono, kalau tempat usaha sekaligus rumahnya tersebut sudah didiaminya sejak 48 tahun lalu, yang dirintis suami istri yang telah uzur kini itu (Kartono/85 dan Tjie Mielai/75).

Tangkahan UD Budi Jaya dibangun secara perlahan dengan keringat dan darah, ketika sudah besar usahanya, malah direnggut oleh pihak dari Pemko Sibolga tanpa melalui mekanisme pengadilan yang sah.

“Kalian hancurkan rumah ku tempat tinggal ku dan usaha kami ini ,enak kali kalian merebut apa yang kami miliki, woi.. kenapa kalian hancurkan rumah ku,” Ai menangis.

Baca Juga :   Pemilik Tangkahan Budi Jaya Sibolga Kembali Buat Laporan Polisi, Gerombolan Orang Suruhan Semakin Paksa Kuasai Tanah

Bahkan Ai nekat naik ke atas alat berat beko yang tengah bekerja menghancurkan rumahnya di tengah hujan deras agar ekscavator berhenti. Namun apalah daya,  tenaga nenek  tua renta itu dibandingkan Satpol PP dan oknum aparat negara lainnya yang ngotot meski layak disebut belum mendalami sejarah lahan tangkahan Budi Jaya.

Kejamnya lagi, jelas-jelas nampak tindakan represif disana, tindak kekerasan dengan menyeret dan diduga memukuli anggota kerja Ai/Kartono sampai babak belur,  sehingga aksi tersebut jadi hujatan masyarakat setempat.

Pun begitu, tidak ada yang berani komplain. Lantaran takut melihat seragam para aparat. “Kasian kali lah mereka hujan – hujan diseret, diduga dipukuli, ditarik tarik. Sedih kami lihat pekerjanya dibuat gitu, kejam kali orang itu.”ujar warga.

Banyak masyarakat Kota Sibolga yang menyayangkan aksi diduga perampasan yang dilakukan Pemko Sibolga melalui perintah Walikota Jamaluddin Pohan,  mengerahkan kekuatan penuh untuk melawan kakek nenek renta terebut.

“Tak punya hati nurani mereka, masa untuk melawan kakek – kakek dan nenek – nenek saja mereka seperti itu, kasian rakyat kecil ini, usaha yang dirintis dari nol ketika sudah besar langsung diambil alih. Gak punya hati mereka.” ungkap beberapa warga yang menyaksikan penggusuran tanpa proses pengadilan tersebut.

Baca Juga :   PPKM Diperpanjang Lagi, Bagaimana Aturan dan Syarat Perjalanan Darat?

Yang lebih menyayat hati, Ai dan Kartono, kedua pasangan ini yang sudah udzur, sampai  rela bermalam dan sudah berapa hari tidak makan lantaran tidak terima dengan perlakukan oknum di Pemko Sibolga yang terasa semena – mena kepada mereka.

“Salah kami apa pak, apa tidak ada lagi tangkahan yang lainya di Kota Sibolga ini,  kenapa harus punya kami yang dihancurkan, kami punya surat- suratnya yang sah,  kenapa Bapak tidak peduli Pak, mohon kepada Pak Gubernur Pak Presiden, agar tahu kelakuan Walikotanya ini.” kata Ai sembari menangis.

Selain penghancuran yang dilakukan Pemko Sibolga, ratusan pekerja tangkahan UD  Budi Jaya jadi pengangguran dan tidak tahu mau bagaimana menghidupi keluarga mereka.

Baca Juga :   Ketua TP. PKK Dairi Kabulkan Keinginan Rela Lumban Gaol

Luar biasa aksi Pemko Sibolga yang diduga mementingkan kepentingan segelintir golongan, elit – elit, tanpa memikirkan rakyatnya .

Penuturan Ai, kalau mereka merupakan warga kota sibolga yang taat aturan hingga dalam membayar pajak. ”Kami taat pajak dan kami warga Sibolga seharusnya Walikota melindungi kami, bukan malah seperti menindas kami macam ini, pekerja di tangkahan kami bagaimana sekarang itu nasibnya, tidak ada dipikiran walikota.” terang Ai sambil menangis.

Wlikota Sibolga Jamaludin pohan dengan santai mengatakan kepada wartawan Tobapos saat dikonfirmasi, “Kalau memang mereka punya surat yang sah, silakan saja mengadu.” Kata Jamaluddin Pohan kepada wartawan.

Dari peristiwa yang dialami Ai dan Kartono, banyak pihak yang berspekulasi kalau ada kepentingan partai politik agar proyek tersebut bisa terlaksana tanpa memperdulikan nasib masyarakat.

Pernyataan Jamaludin Pohan tersebut sangat menyayat hati Ai dan Kartono juga ratusan pekerja. Pasalnya mereka punya surat yang dirasa sah dan justru pihak walikota lah yang dipertanyakan surat suratnya. ”Kejam kali memang dia pak, kejam lah itu, kami punya surat tapi kok begitu mereka. sementang punya kekukasaan, jangan suka – sukanya mereka.” tambah Ai.(Amri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *