Sedikitnya 56 Karyawan Pinjol Ilegal Ditangkap Polisi

Kriminal

tobapos.co – Aparat kepolisian terus memburu bisnis pinjaman online (pinjol) ilegal dalam beberapa waktu terakhir. Upaya itu dilakukan setelah praktik rentenir online tersebut memakan banyak korban.

Presiden Joko Widodo juga menaruh perhatian khusus kepada pinjol. Lewat Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi menilai pinjol telah banyak merugikan masyarakat, terlebih di tengah pandemi Covid-19.

“Kejahatan pinjol ilegal sangat merugikan masyarakat sehingga diperlukan langkah penanganan khusus. Lakukan upaya pemberantasan dengan strategi preemtif, preventif maupun represif,” kata Listyo dalam keterangannya, Selasa (12/10/2021).

Polres Metro Jakarta Pusat baru-baru ini menggerebek sebuah ruko di bilangan Jakarta Barat yang menjadi pusat kegiatan pinjol. Di lokasi itu, sedikitnya 56 karyawan tengah beraksi lewat komputer kerja mereka.

“(Total yang ditangkap) 56 karyawan bagian penawaran pinjaman maupun penagihan,” kata Wakapolres Metro Jakarta Pusat AKBP Setyo Koes Hariyanto kepada wartawan, Kamis (14/10/2021).

Satgas Waspada Investasi (SWI) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga Agustus 2021, ada 22.986 pengaduan masyarakat yang masuk terkait pinjol.

Sementara, dalam beberapa bulan terakhir, aksi rentenir online telah memakan banyak korban. Sebagian warga bahkan tak jarang diancam dibunuh. Lalu sebagian sisanya, penagih hutang mengancam menyebar foto vulgar.

Bunuh Diri Ditagih Pinjol

Seorang ibu rumah tangga berinisial WPS (38), warga Selomarto, Giriwoyo, Wonogiri, Jawa Tengah meninggal akibat bunuh diri setelah diteror debt collector atau penagih utang pinjol.

WPS ditemukan gantung diri oleh ibu mertuanya yang tinggal di seberang rumah korban. Menurut polisi, WPS bunuh diri akibat tak tahan ditagih utang pinjol.

Korban ditemukan bersamaan dengan surat wasiat berisi alasan WPS nekat mengakhiri hidupnya. Dalam pengakuannya, korban terlilit hutang total puluhan juta rupiah dari 23 pinjol.

“Ada tulisannya memang bahwa sering diteror-teror begitu,” beber Kapolres Wonogiri Kapolres Wonogiri AKBP Dydit Dwi Susanto awal Oktober lalu.

Teror Pembunuhan Nafa Urbach

Selebritas Nafa Urbach bahkan tak luput kena sasaran teror pinjol. Nafa mengatakan teror datang padanya dari nomor-nomor telepon yang tak ia kenal.

Sang penelepon menyebut bahwa ada rekan Nafa yang meminjam uang, dan menjadikan Nafa sebagai jaminan. Karena dinilai tidak kooperatif, keluarga Nafa pun turut jadi sasaran ancaman. Peneror bahkan sebut akan datangi kediaman dan keluarga Nafa.

Ancaman yang diterima Nafa beragam, dan berkembang hingga ancaman pembunuhan.

“Keluarga saya diancam, ‘Kalau lo enggak bayar (pinjamannya) keluarga lo jadi tanggungannya. Gue bisa datang ke rumah lo dan gue habisin semua keluarga lo.’ Sampai kayak gitu,” ucap Nafa pertengahan September lalu.

Polisi mengungkap sebuah modus pemalsuan identitas peminjam uang oleh sindikat pinjol. Hal itu diungkap usai Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menangkap delapan tersangka terkait sindikat pinjol ilegal pada perusahaan PT SCA.

Dalam penangkapan itu, polisi mengungkap para sindikat pinjol kerap memalsukan pihak peminjam uang sebagai bandar narkoba. Hal itu dilakukan sebagai modus penagihan utang.

Selain memalsukan identitas peminjam sebagai bandar narkoba, sindikat pinjol juga kerap mengedit foto-foto vulgar dan menggantinya dengan identitas si peminjam uang.

“Mereka membuat pesan-pesan, tulisannya yang mungkin sifatnya sudah mencemarkan nama baik. Contohnya, adalah dibuat seolah-olah bahwa borrower (peminjam) itu adalah bandar sabu, bandar narkoba,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri, Brigjen Helmy Santikadi Jakarta, Kamis (29/7).

Sebar Foto Vulgar

Kali ini, modus penagihan utang pinjol kepada nasabah dilakukan lewat ancaman menyebar foto vulgar. Foto-foto itu bukan asli. Foto merupakan hasil edit yang diganti dengan identitas nasabah pinjol.

Modus itu kerap digunakan oleh pinjol dengan membobol data pribadi milik korban yang mengajukan pinjaman di perusahaan pelaku. Nantinya, uang tagihan akan mendapat bunga beberapa kali lipat hingga nasabah tak mampu membayar.

“Begitu Anda akses, Anda ‘ya’ melakukan pinjaman, Anda acc semua ketentuan segala macamnya, itu data Anda di dalam HP itu, daftar kontak ini, disedot sama mereka. Secara, saudara-saudara mereka (korban) ini banyak dikasihi tagihannya,” kata Kasubdit V Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Kombes Ma’mun.(REP/CNN Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *