Polrestabes Medan Terkesan Lamban Tangani Kasus Wartawan

Headline Kriminal

tobapos.co – Berbulan – bulan sudah laporan pengaduan kasus penculikan, penganiayaan yang dialami Chairul Amri, wartawan media ini di Polrestabes Medan. Terkesan lamban, sebab penyidik belum juga menetapkan tersangkanya. Senin (20/6/2022).

Padahal dalam kasus tersebut diketahui lebih dari dua alat bukti yang sah sudah terpenuhi. Bahkan para terlapor (Kaiman Sitio dan Fauzi sesuai STPL No: 1284/IV/2022/SPKT/POLRESTABES MEDAN/POLDA SUMUT) sudah diperiksa.

Terkait ini, kembali dikonfirmasi Kanit Pidum Polrestabes Medan AKP Reza, dia mengatakan, pihaknya akan mengirimkan SP2HP kepada korban dan soal status terlapor belum bisa dinaikan, lantaran pihaknya belum melakukan gelar perkara.

“Status terlapor belum bisa dinaikan lantaran kita harus hati – hati dan tidak semudah untuk menaikan statusnya. Pun begitu kami akan mengirimkan SP2HP ke korban.” jawabnya.

Baca Juga :   Gedung DPRD DKI Terbuka untuk Umum, Simanjuntak: Di Data Kami, tak Ada Influencer Vaksin Ketiga
Foto: Terlapor Kaiman Sitio (kanan), korban Chairul Amri (kiri)//

Sekedar informasi kepada publik, laporan penculikan disertai penganiayaan terhadap wartawan itu diketahui bermula dari 6 unit mesin judi jekpot yang ditangkap Polsek Helvetia, Polrestabes Medan. Lalu terlapor Kaiman Sitio meminta tolong kepada korban Chairul Amri agar membantunya mengurus mesin judi itu dengan memberikan uang Rp2 juta.

Namun pengurusan lama selesai dan Kaiman Sitio memaksa meminta uangnya dikembalikan. Sebelum dihadapkan kepada Kaiman Sitio di rumahnya di kawasan Mariendal Amplas, Chairul Amri dibujuk rayu teman seprofesinya bernama Fauzi, dijemput dari rumah dengan alasan ada kerjaan.

Perkembangan berkaitan dengan kasus tersebut, saat ini Chairul Amri yang jelas-jelas menjadi korban malah sengaja dibangun isu-isu fitnah terhadapnya.

Baca Juga :   Kasus Prank Rp 2 T Anak Akidi Tio, Begini Perkembangan Barunya

“Saya mohon kepada Polrestabes Medan supaya jangan lama membongkar kasus ini, masyarakat luas sudah mengetahuinya, tentu ingin juga tahu bagaimana kebenarannya,” ungkap Amri.

Korban kembali meminta agar petugas tidak berpihak, apalagi memandang materi ataupun kepentingan pribadi. “Apa karena saya masyarakat biasa makanya penegakan hukum jadi tumpul?” kata korban.

Kapolrestabes Medan Kombes Pol Valentino Tatareda dicoba dikonfirmasi wartawan, ironinya terkesan enggan berkomentar. (TP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *