tobapos.co – Di tengah Pendemi Virus Corona yang merusak perekonomian dunia, tampaknya menjadi lebih sangat dirasakan para petani melon di Dusun Lima Kali Tawang, Desa Naga Timbul, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara .
Pasalnya, disaat Dinas Pertanian Kabupaten Deli Serdang melalui Unit Pelaksana Teknis mengimbau para petani melon yang ada di dusun tersebut di atas agar menerapkan pola tanam serentak untuk mengantisipasi serangan hama yang berdampak pada produksi panen nantinya, namun dengan kondisi yang saat ini gagal panen malah terkesan menyalahkan petani.

“Kita sudah turun ke lokasi melihat kondisi tanaman melon yang luasnya diperkirakan puluhan hektar di Dusun Lima Kali Tawang Desa Naga Timbul dan melalukan sosialisasikan melalui kelompok tani dengan merumuskan program dan pola tanam dan perburuan hama melalui tenaga penyuluhan di sentra-sentra pertanian,” kata Jaharuddin Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Pertanian Deli Serdang kepada media ini saat ditemui di lokasi pertanian Jumat (18/6/2020).
Jaharuddin yang didampingi Irma Boru Siregar merupakan petugas penyuluhan lapangan Desa Naga Timbul, dan K. Sirait sebagai POPT- PHP Kecamatan Tanjung Morawa, Ketua Gapoktan dan Ketua Kelompok Tani bersama beserta para petani melon lainnya, menyampaikan, penanaman melon secara acak dan perburuan hama tidak serentak yang menjadi kendala utama petani melon di Kecamatan Tanjung Morawa sehingga tidak memberikan dampak positif.
“Hama tanaman melon, padi , timun dan tanaman lainnya akan berpindah ke lokasi lain, saat petani melakukan perburuan di lokasi tertentu. Dan demikian seterusnya, sehingga tidak efektif,” kata Jaharuddin.
Lanjut dikatakannya, Dinas Pertanian hanya sebatas memberikan imbauan untuk mengikuti program, karena tidak punya wewenang untuk memberikan sanksi.
Sementara menurut para petani di Kecamatan Pane, mereka terpaksa menanam melon, padi, timun dan tanaman lainnya sesuai keinginan sendiri untuk memenuhi hidup keluarga. Karena mereka tidak bisa membiarkan lahan kosong untuk menunggu waktu tanam serentak.
“Apalagi kami para petani melon di daerah ini kebanyakan bukan pemilik lahan, melainkan disewa bayar panen. Seharusnya dinas pertanian memberikan supot kepada petani atas gagalnya panen, malah mereka datang menyalahkan atau memojokkan petani,” ungkap mereka.
Lanjut warga, “Sudah lama kami melakukan penanaman melon di daerah ini, namun belum pernah terlihat batang hidung petugas penyuluhan lapangan memberikan penyuluhan, maupun sosialisasi, bagaimana caranya bercocok tanam,” tambah sejumlah petani melon lainnya. (ET. DS-1)