Selama PSBB, DKI Klaim Ada Peningkatan Urban Farming

Pemerintahan

tobapos.co – Pemprov DKI Jakarta mengklaim terjadi peningkatan urban farming (pertanian perkotaan) di Jakarta selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). 

Hal ini disebabkan, banyak warga Jakarta memanfaatkan ruang kosong menjadi lahan pertanian selama mereka berkegiatan di rumah.

“Jadi, itu terbukti selama PSBB permintaan benih itu meningkat sekali. Dan begitu saya ke lapangan itu awalnya mereka ada yang lahan kosong atau hidroponik dan sebagainya ada peningkatan dan benar untuk kebutuhan mereka sehari-hari, mereka tidak perlu ke pasar,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) Provinsi DKI Jakarta, Darjamuni, di Jakarta, Selasa (16/06/2020).

Pihaknya mengaku telah memberikan bantuan benih tanaman kepada masyarakat sesuai standar operasional prosedur (SOP). Dia mencontohkan, benih tanaman bisa diberikan jika ada permintaan dari masyarakat. Menurutnya, tidak sedikit juga permohonan bantuan benih ikan.

“Paling besar permintaan untuk bibit itu di Jaksel. Tapi datanya ada semua permohonan itu begitu juga benih ikan. Dasar kami mengeluarkan itu ada karena ada permohonan. Ini gratis iya, karena ada pergubnya. 60 persen benih itu diberikan sesuai dengan permohonan masyarakat,” katanya.

Untuk benih ikan, ungkapnya, telah terjadi over produksi saat ini, terutama ikan kerapu. Pemprov DKI Jakarta memberdayakan nelayan di Kepulauan Seribu untuk berbudidaya ikan kerapu. Hasilnya, ikan kerapu itu dipasok ke sejumlah restoran di Jakarta.

Kepala bidang Pertanian Dinas KPKP, Mujiati mengatakan terjadi kenaikan jumlah petani yang melakukan urban farming. Saat ini, pihaknya telah mengembangkan pertanian perkotaan hingga 600 titik berupa gang hijau dengan ribuan petani.

“Titiknya ada 600 gang hijau, satu gangnya mungkin rata-rata 10 orang berarti sudah 6 ribu kemudian karang taruna itu ada 300 lokasi satu lokasi kalau kita hitung 5 orang itu berarti 1500 orang kemudian PKK terus di RPTRA, kita belum punya data persis karena kita mendata lokasi-lokasi,” katanya.

Dia mengungkapkan, wilayah yang cukup banyak mengembangkan urban farming ada di Jakarta Timur, Jakarta Barat dan Jakarta Selatan. Namun, jelasnya, Jakarta Utara masih ada wilayah berupa persawahan meski tidak terlalu luas.

“Bisa di di halaman, bisa di atap. Kemarin di Jakbar itu di atas masjid di Tebet juga di atap masjid. Kemudian ada yang di gang, ada yang di depan rumah, ada yang di sekolah, SMA 70 juga ikut menanam. Taman-taman yang dulunya digunakan untuk tanaman hias sebaiknya dialihkan. Ke tanaman sayuran,” jelasnya.

Dari aktivitas urban farming ini, lanjutnya, masyarakat sekitar terbantu pemenuhan sayuran sehari-harinya. Apalagi, ucapnya, sayuran itu lebih sehat, lebih bersih, lebih segar karenaenanam sendiri dan tidak pakai pestisida. (TP 2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *