Pemkab Samosir Promosikan Produk Mendunia “Wine Mangga” di PRSU 2026

Ekonomi Headline

tobapos.co – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Samosir ikut memeriahkan ajang Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) yang ke-50. Pemkab Samosir mempromosikan produk unggulan yang sudah mendunia “Wine Mangga”, yang berasal dari kampung (huta) Silimalombu Samosir yang rasanya sudah sampai di negara Jerman.

“Ya…, Wine Mangga ini sudah sampai ke negara Jerman, tapi di produksi di kampung Silimalombu, berkisar 12 Km dari Tomok Samosir,” kata Lambok Sigalingging menjawab Media saat ditemui di stand Pemkab Samosir, Rabu 8 Juli 2026 malam.

Dijelaskan, pemilik yang bernama Ratna Gultom adalah warga kampung asli dari Kabupaten Samosir. Sejak nikah dengan Thomas asal negara Jerman, Ratna pun mulai membuka usaha kecil-kecilan.

Ratna dan suaminya memanfaatkan buah mangga yang tak layak jual, untuk berbagai produk bernilai jual. Misalnya saja hand sanitizer.

“Sebenarnya turunan dari mangga, mereka menggunakan hasil alam, apa aja yang tumbuh di sekeliling rumahnya, ada mangga, ada kemiri, ada kelapa, ada sirsa,” kata Lambok Sigalingging didampingi Srik Hutabarat dan Yunani Simarmata.

Lebih jauh kata Sigalingging, Produk Wine Mangga ini mereka temui dari alam. “Jadi, suaminya Thomas bertemu di Desa  Silimalombu Samosir, bukan di Jerman. Sementara Ratna Gultom anak kesebelas dari dua belas bersaudara,” jelas Sigalingging.

Srik Hutabarat juga  menjelaskan, proses pembuatan Wine Mangga   sudah berjalan sejak tahun 2014 dan kini usaha mereka sudah berjalan selama 12 tahun. 

“Suami Ratna Gultom yang membawa produk Wine Mangga itu ke Jerman, sehingga sudah mendunia, rasanya ada 2 jenis, manis dan sedikit pahit,” tambahnya.

Dengan kurun waktu yang sudah 12 tahun lamanya, artinya, mereka banyak mengalami kegagalan saat memulai usaha tersebut. Lama-kelamaan, mereka mendapatkan rumus yang tepat pada setiap produk mereka. 

“Ada proses yang panjang, sehingga menghasilkan seperti yang sekarang, Wine Mangga hasil fermentasi berbahan dasar mangga,” tambahnya.

Dijelaskan, sampai dimasukkan ke dalam botol dimasak agar tidak ada bakteri yang masuk dan tahan lama. 

Setelah fermentasi, Mangga dicampur dengan ragi dan ditunggu sampai tiga bulan barulah panen. “Setelah disaring tentu ada yang tinggal sedimennya. Sedimennya itulah yang destilasi menjadi hand sanitizer,” jelasnya.

Sesudah hand sanitizer, lanjut Srik, ada yang 80 persen, ada juga yang di bawahnya itu, dibrandy. Ada yang lain seperti minyak kemiri. Sedimennya minyak kemiri itu juga bisa digunakan jadi lulur, bisa juga untuk bersauna. 

Srik yang mengaku sudah pernah ke lokasi Produksi di Silimalombu mengatakan, dengan pengalaman panjang itu, tentu tidak ada yang menjadi sampah dari alam. Semua hasil bumi dapat digunakan demi keberlangsungan hidup setiap makhluk.

“Jika kita langsung ke lokasi Produksi di Silimalombu daerah Tomok, suasana lebih sejuk dan asri. Bahkan disana kita diberi pilihan rasa yang beraneka, kita dimanjakan dengan suasana yang penuh dengan kekeluargaan. Menuju lokasi boleh menggunakan jenis Kapal jalur  Danau, tidak harus lewat darat,”  jelasnya. 

Namun, begitupun Srik mengajak untuk datang ke Stand Pemkab Samosir, sebelum ke Silimalombu. “Bagi yang penasaran, boleh datang ke stand kami di PRSU, ada juga pilihan harga yang terjangkau dengan rasa yang sudah mendunia,” pungkas Srik Hutabarat. (Dicky Sihotang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *