KPK Tegur Kepala OPD Pemprov Sumut dan Istri, “Jangan Perkaya Diri dan Rugikan Negara”

Headline Korupsi

tobapos.co – Komisi Pemberantasan Korupsi tegur pejabat Pemprovsu agar tidak korupsi. Dihadapan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, Lili Pintauli Siregar mengingatkan seluruh Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumut untuk tidak memperkaya diri dan orang lain. Lili juga berpesan tidak merugikan negara dan itu dianggukkan oleh Gubernur Edy pada acara Sosialisasi Pencegahan Korupsi di Aula Tengku Rizal Nurdin, Rumah Dinas Gubernur Sumut, Jalan Jenderal Sudirman Nomor 41 Medan, Rabu (3/2/2021).

Gubernur Sumut didampingi Wakilnya, Musa Rajekshah, Sekretaris Daerah Provinsi Sumut R Sabrina, Ketua TP PKK Sumut Nawal Lubis, Wakil Ketua PKK Sumut Sri Ayu Mihari, dan seluruh pimpinan OPD bersama istri juga berharap agar stafnya tidak korupsi dan merugikan negara.

Edy juga mengatakan, “Saat ini sudah banyak pejabat Sumut yang menjadi pesakitan, rusak nama baiknya, dan rusak nama baik keluarga, karena nafsu yang tidak bisa diatasi. KPK juga tidak sembarang dalam menangkap orang, apalagi hanya karena administrasi yang salah. Hal itu terjadi, karena memang ada kesalahan yang sengaja dilakukan.

Karena sampai detik ini kita belum bisa lepas dari belenggu korupsi, suatu perbuatan yang membuat rakyat sengsara, kalau kita ini baik, mengikuti ajaran agama kita, KPK ini tidak perlu ada, namun karena nafsu kita yang tidak terkendali makanya KPK ini ada,” tambahnya.

Pada pertemuan tersebut, Wakil Ketua KPK Lili Pintauli Siregar menyampaikan materi tentang peran ibu dan keluarga dalam pencegahan korupsi. Menurutnya, pada kasus tindak pinada korupsi yang paling menderita adalah istri dan anak.

“Mereka mengalami depresi hingga mendapat bully dari masyarakat. Untuk itu, ungkap Lili menambahkan amat penting peran ibu dan keluarga dalam pencegahan korupsi,” terangnya

Tidak hanya ibu, kata Lili, dari beberapa kasus yang terjadi dapat dilihat bahwa kasus korupsi juga melibatkan keluarga, dengan mengikutsertakan istri dan anaknya untuk melakukan pencucian uang. Padahal seharusnya, sebagai seorang istri harus berani bertanya pada suami tentang uang yang banyak dari mana asalnya, mobilnya dari mana, jangan ketika suami sudah pakai rompi orange atau menjadi tersangka kasus korupsi, istri baru sibuk mencari tahu ke sana sini, ujar Lili mengakhiri. (MM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *