Kasus Viral Motif Pengurusan Mesin Judi Di Polrestabes Medan Diduga Dipetieskan, Komitmen Kapolri “Potong Kepala” Semoga Dibuktikan

Headline Kriminal

tobapos.co – Komitmen Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo akan “Potong Kepala” dalam pembenahan internal Polri agar jauh lebih baik, dicintai masyarakat, tentunya butuh pembuktian.

Keseimbangan yang diterapkan Kapolri itu, dimana ancaman bagi yang melanggar aturan dan reward bagi yang menjalankan tugas dengan baik, tentunya mendapat apresiasi penuh dari banyak elemen di  lapisan masyarakat.

Apalagi masih kerap dirasakan masyarakat, kinerja oknum-oknum personel Polri yang dinilai meresahkan masyarakat hingga melanggar aturan yang ada.

Salah satu dari sekian kasus viral yang dapat dijadikan contoh, laporan pengaduan Wartawan media ini (tobapos.co), Chairul Amri di Polrestabes Medan sebagai korban penculikan, penyekapan hingga berujung penganiayaan, tertuang dalam STPL No: 1284/IV/2022/SPKT/POLRESTABES MEDAN/POLDA SUMUT.

Foto: Korban Chairul Amri (kiri), Khaiman Sitio (kanan)//

Sudah sekitar 3 bulan lebih sejak dilaporkan, lalu  dilakukan penyidikan oleh Unit Pidum, Sat Reskrim Polrestabes Medan. Ironinya, sampai saat ini belum ada yang dijadikan tersangka.

Padahal, minimal dua alat bukti permulaan untuk menaikkan status para terlapor menjadi tersangka diketahui sudah lama terpenuhi dipegang penyidik.

Baca Juga :   Ratusan Juta Tiap Bulan Suap Dari Ketua Asosiasi Toko Obat Produk Ilegal Di Medan, Masih Zaman Informasi Dibiarkan?

Dari itu, pantaslah kalau diduga kasus tersebut akan dipetieskan dan apakah yang dikatakan Kapolri di bawah ini benar diimplementasikan? Semoga dibuktikan:

“…Ikan busuk mulai dari kepala, kalau pimpinannya bermasalah maka bawahannya akan bermasalah juga…Kalau tak mampu membersihkan ekor maka kepalanya akan saya potong..”

Menurut keterangan terkini diceritakan korban (Chairul Amri), Jumat (12/8/2022), kepada beberapa rekannya sesama wartawan. Awalnya dirinya tidak terlalu mendesak pihak Penyidik kasusnya lantaran kepercayaan terhadap Polri. Apalagi selama ini Wartawan dan Polri merupakan mitra strategis.

Namun setelah ditunggu – tunggu, sampai sekitar 100 hari lebih, sepertinya tidak ada perkembangan. Dirinya pun mencoba melakukan konfirmasi kepada Kapolrestabes Medan Kombes Pol Valentino Alfa Tatareda melalui pesan WhatsApp.

Namun sang Kapolrestabes tidak ada menjawab sepatah kata pun. “Saya awalnya tidak terlalu mendesak soal kasus saya dan mempercayakannya kepada pihak Penyidik. Namun sudah berjalan selama ini tidak ada perkembangan, dan itu sungguh memalukan,” ujarnya.

Baca Juga :   Soal Mobilnya Ditabrak Roy Suryo, Ini Kata Lucky Alamsyah

Ditambahkan Amri, kalau terlapor Khaiman Sitio diduga perannya merupakan otak pelaku, sampai saat ini masih bebas berkeliaran. Kemudian Fauzi Cs kaki tangan Khaiman, semakin merasa kebal hukum. Bahkan kembali berusaha mengulangi perbuatannya terhadap Chairul Amri.

Informasi didapat, bahwa ada inisial KS merupakan bos perjudian skala besar, disebut-sebut bisa berkaitan dengan kasus ini. Dia sehari-hari memimpin pengelolaan tempat, mempekerjakan orang hingga menyediakan mesin judi jenis jekpot sampai tembak ikan.

Itu bisa dibuktikan bila Polrestabes Medan mau melakukan penggrebekan lokalisasi perjudian besar-besaran diciptakan KS yang masih di wilayah hukumnya, yakni di Jalan Jermal 15 Percut Seituan, di Jalan Pertahanan Patumbak Pasar 12, Desa Patumbak Kampung, Jalan Kelambir Lima, Desa Lalang, Kecamatan Sunggal DS tepatnya di lokasi yang sering disebut ‘pria laut’.

Mau dasar lebih kuat, bahwa motif kekerasan keji  yang dialami Chairul Amri berawal dari pengurusan mesin judi jekpot. Dimana Khaiman Sitio meminta tolong kepada Amri agar mengurus 5 unit mesin jekpotnya hingga dapat dikeluarkan dari Polsek Helvetia yang sebelumnya ditangkap karena terang-terangan beroperasi meresahkan masyarakat.

Baca Juga :   Cegah Mitigasi Omicron, Inggard: BPBD Harus Perkuat Kolaborasi

Namun jekpot Khaiman Sitio itu tak berhasil dikeluarkan, sedangkan uang sekitar Rp1 juta yang diberikan Khaiman untuk biaya operasional sudah habis terpakai.

Merasa kesal mendapat laporan uang habis mesin judinya tak bisa keluar, Fauzi yang dikenal sebagai kaki tangan Sitio berhasil membawa Amri dari rumahnya di Sunggal dengan tipu daya, lalu menghadapkan kepada Khaiman Sitio kemudian  berujung penyekapan dan penganiayaan terhadap wartawan tobapos itu.

Ada lagi yang lebih mengganjal, mengapa pihak Penyidik Polrestabes Medan yang dipimpin Kombes Pol Valentino Alfa Tatareda tak juga mentersangkakan terlapor Kaiman Sitio dan kaki tangannya Fauzi?

Apakah karena adanya hubungan khusus yang berkaitan dengan setoran dari perjudian? Itu akan diulas tim media ini dalam pemberitaan selanjutnya. (TIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *