Jelang Nataru, Pasar Jaya Sudah Punya Konsep Atasi Gejolak Harga

Ekonomi Headline

tobapos.co – Setiap menjelang hari besar keagamaan dan akhir tahun atau Natal dan Tahun Baru (Nataru) secara umum kebutuhan pangan di masyarakat mengalami peningkatan. Sehingga perlu dilakukan antisipasi penyediaan sejumlah komoditi yang dinilai rentan mengalami kenaikan harga.

“Perumda Pasar Jaya seperti tahun-tahun sebelumnya sudah menyiapkan antisipasi juga sehingga tidak ada gejolak harga khususnya di pasar tradisional. Tak hanya itu penyiapan kebutuhan juga dilakukan di seluruh gerai pangan yang dikelola oleh Pasar Jaya,” kata Dirut Perumda Pasar Jaya Arief Nasrudin di Jakarta, Kamis (24/12/2020).

Bertepatan peringatan HUT Pasar Jaya ke 54 yang jatuh hari ini juga, Arief menjelaskan untuk mengantisipasi kenaikan harga daging, Pasar Jaya telah membangun sejumlah 

mesin CAS di pasar-pasar yang ada di Jakarta. Sehingga sejumlah kebutuhan pokok sudah bisa dilakukan penyimpanan sejak jauh hari.

“Pasar Jaya saat ini sudah memiliki 4 Jakgrosir sebagai induk pusat distribusi pangan di Jakarta. Jakgrosir tersebut ada di Pasar Induk Kramat Jati, Kedoya, Walang Baru dan satu di Pulau Seribu. Keberadaan Jakgrosir didukung oleh gerai retail di bawahnya sebagai tempat penyaluran komoditi pangan tersebut,” papar Arief.

Baca Juga :   Walau Covid-19 Turun, Pras: Warga Jakarta Harus Tetap Jaga Prokes

Rencananya, lanjut Arief, segera menyusul pembangunan Jakgrosir di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan.

“Khusus untuk cold storage sendiri juga sudah disiapkan di sejumlah pasar. Sehingga 

kebutuhan pangan daging beku juga bisa distok dari awal,” ujarnya.

Perlu diketahui komoditi daging adalah salah satu komoditi yang cenderung mengalami lonjakan harga setiap hari besar keagamaan dan tahun baru. Waktu pelaksanaan penjualan produk pangan ini sendiri berlangsung sejak 8 Desember 2020 sampai dengan 31 Desember 2020. 

Harga promo juga sudah disiapkan untuk para pelaku usaha yang tegabung dalam Jakprenur. 

Lokasi pelaksanaan adalah Jakgrosir Induk Kramat Jati, Jakgrosir Tidung Kecil, Jakgrosir Walang Baru, Jakgrosir Kedoya, Jakmart Asam Reges, Jakmart Fish Angke, Gerai Cupang, 

Jakmart Glodok, Gerai Kamal, Gerai Semanan, Jakmart Marhamas, Gerai Rawa Lele, Gerai Siduck.

Kemudian, Jakmart Pramuka, Jakmart Rawa Bening, Jakmart Sunan Giri, Jakmart Duren Sawit, Gerai KGN, Gerai SPSI Cakung, Gerai FSPMI Cakung, Gerai Sri Gunting Walikota Jakarta Pusat, Jakmart Cikini, Jakmart Pasar Baru dan Jakmart Balaikota.

Baca Juga :   Wagub Sumut Tegaskan Agar Bansos Tepat Sasaran

Lokasi berikutnya Jakmart Tanah Abang, Jakmart Jakarta Pusat, Jakmart Thamrin 10, Alaydrus, Jakmart Inpari, Pasar Grogol, Pasar Pelita, Kelurahan Marunda, Pasar Tomang, Pasar Rawa Badak, Pasar Kramat Jati, Pasar Perumnas Klender.

Berikutnya Pasar Cempaka Putih, Pasar Johar Baru, Pasar Mayestik, Kecamatan Jagakarsa, Kecamatan Pancoran, Pasar PSPT dan Kecamatan Pasar Minggu.

Masih kata Arief, adapun beberapa komoditi yang disiapkan stoknya menjelang hari besar keagamaan 

nasional (HBKN) Natal 2020 dan tahun baru 2021 hingga Desember ini adalah 

  1. Beras (529.710 KG)
  2. Gula (13.500 Kg)
  3. Tepung (169.125 Kg)
  4. Minyak (2 liter 169.125 item dan 1 liter 2.500 item)
  5. Ayam (3.500 Kg), 
  6. Sapi (2.500Kg)
  7. Kerbau (1.255 Kg)
  8. Bawang merah (26.000 Kg)

Untuk harga yang akan diterima masyarakat komoditi 

  1. minyak goreng seharga 24.000 per dua liter
  2. Tepung seharga 8.000 per kg
  3. Bawang Merah seharga 35.000 per kg
  4. Beras seharga 60.000 perlima kg
  5. Daging cl85 seharga 80.000 per kg
  6. Daging Kerbau 65.000 per kg
  7. Daging ayam seharga 27.000 per ekor
  8. Gula 12.500 per kg.
Baca Juga :   Gubernur Sumut Inginkan Kualitas Layanan Kesehatan Terus Ditingkatkan

“Setiap tahunnya Pasar Jaya bekerjasama dengan BUMD pangan lainnya. Dan juga Bank Indonesia sebagai Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan skema 

penangganan pangan agar harga tidak melambung tinggi. Karena itulah sinergi secara keseluruhan diperlukan agar kondisi pangan Jakarta tetap terjaga harganya dan ketersediaan produknya cukup,” tandas Arief.

Mengutip data dari BPS DKI Jakarta Selama Januari-Desember tahun 2019 inflasi di DKI Jakarta mencapai 3,23 persen, lebih rendah dari inflasi pada periode yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar 3,27 persen. 

Selain itu dari pendataan yang dilakukan oleh Bappeda DKI sepanjang tahun 2020 adalah Laju inflasi DKI Jakarta dari Januari –September 2020 mencapai 1,05% dan pada bulan September 2020 terjadi inflasi sebesar 0,02% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) semula 105,37 menjadi 105,39. 

“Kondisi ini dikarenakan adanya kelompok pengeluaran yang mengalami peningkatan harga terbesar 

dan memberikan dampak inflasi di DKI Jakarta yaitu kelompok pendidikan dengan nilai inflasi sebesar 1,88%,” tutup Arief. (TP 2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *