Importir Klaim Jual Rugi Kedelai

Ekonomi

tobapos.co–Asosiasi Importir Kedelai Indonesia (Akindo) mengaku menjual kacang kedelai di harga rugi akibat penetapan harga acuan sebesar Rp8.500 per kilogram (Kg) di tingkat perajin.

Anggota Akindo Po Indarto Gondo menyebut harga kedelai impor di pelabuhan saat ini sudah di atas harga acuan. Pun tak menentu, namun ia mengestimasikan dengan ditambahnya beban (cost) distribusi, harga bisa dibanderol sebesar Rp9.000-an per Kg.

“Kalau jual rugi, memang rugi, tapi memang kan harga fluktuatif ya, Rp8.500 saat ini. Ke depan mungkin kami harus evaluasi, jadi dari Dirjen Tanaman Pangan juga bilang dievaluasi terus harganya jadi sesuai harga internasional,” kata dia, Kamis (7/1).

Demi melaksanakan operasi pasar ia menyebut importir harus memberikan subsidi agar selama 100 hari ke depan kedelai bisa dijual seharga itu.

Namun, ia belum menghitung estimasi kerugian yang ditanggung atau sampai kapan subsidi dapat diberikan kepada pengrajin. Yang pasti, ia mengatakan pihaknya dan Kementerian Pertanian akan terus melakukan evaluasi demi menyesuaikan harga di tingkat internasional.

“Namanya kan operasi pasar, jadi memang harus lebih rendah, kan gitu. Tapi ya mungkin jumlahnya berapa kita harus lihat,” terangnya.

Sedangkan, Aziz (25) pengrajin tahu di daerah Kalideres, Jakarta Barat, mengatakan ia harus menaikkan harga tahu dan tempe sebesar 25 persen dari harga normal untuk bertahan.

Ia menyebut 4 bulan lalu atau sekitar kuartal IV 2020, harga kedelai hanya di kisaran Rp6.000an per Kg dan melambung mencapai Rp9.300 per Kg pada awal Januari 2021.

“Kemarin-kemarin kami biasanya untung bersih sekitar Rp40 ribu per 400 tahu tapi kemarin cuma dapat Rp10 ribu aja. Belum kalau tahu rusak, kalau rusak otomatis rugi,” jelasnya.

Walau dibanderol harga selangit, Aziz mengaku masih berproduksi meski untung kian tipis. Mau tidak mau, untuk mengakalinya, ia juga harus memperkecil ukuran tahu yang dijual selain menaikkan harga ke pembeli.

Dia menyebut meski harga melonjak namun bahan baku masih berlimpah, ia tak kekurangan bahan baku untuk memproduksi tahu dan tempe usaha keluarga tersebut.

“Kalau kuantitas penjualan alhamdulilah masih sama,” tambahnya.

Dalam kesempatan sama, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyebut bahwa harga acuan tersebut hanya bersifat sementara demi menjaga stabilisasi harga dan pasokan.

Kesepakatan ini merupakan bagian dari program SOS (darurat) yang dikeluarkan Kementan sesuai dengan arahan Presiden Jokowi.

“Kontraksi pada kedelai terjadi secara global. Selama ini tempe tahu yang kita konsumsi banyak menggunakan kedelai impor karena harganya lebih murah. Pasokan kita aman, namun memang harga naik karena negara produsen mengalami kendala,” pungkasnya.
(sumbercnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *