tobapos.co – Dianggap ada pembiaran terhadap kemiskinan, sehingga silang sengkarut tawuran tiada hentinya melanda masyarakat Belawan. Siapa bertanggung jawab?.
“Permasalahan pengangguran, pengaruh narkotika, pendidikan serta kemiskinan berperan dalam menyulut tawuran antar warga di Belawan,” kata Pengamat Sosial dan Pemerhati Anak Sulais Taufik kepada reporter tobapos, Minggu (25/7/2021).
Dalam hal ini, bukan saja Kepolisian, peran serta Pemerintah, TNI, dan masyarakat dibutuhkan agar suasana Belawan tetap kondusif.
“Pihak aparat keamanan berperan aktif, dan Kepolisian mempunyai peran yang lebih selain TNI dan masyarakat,” jelas Sulais Taufik S.Sos.I.
Bukan itu saja, saat ini semua warga merasakan kurangnya pendidikan yang didapat anak-anak kawasan pesisir. Sehingga pendidikan mereka tertinggal jauh dari daerah lain.
“Miris mendengarnya kalau belajar daring, para anak nelayan tradisional tak mempunyai android. Dan rata-rata anak nelayan banyak yang telah putus sekolah,” ujar Sulais Taufik lagi.
Bahkan gawatnya lagi, saat ini rata-rata nelayan telah menggunakan narkotika. Sehingga penghasilan yang didapat terbuang untuk membeli narkoba.
“Udah bukan rahasia umum lagi, kalau kata nelayan, menggunakan sabu untuk menambah tenaga,” ungkap Sulais Taufik.
Lebih lanjut, tawuran yang terjadi bukanlah merupakan budaya di Indonesia, sehingga karakter tak baik itu bisa diubah melalui komitmen semua unsur di masyarakat selain dari pihak keamanan.
“Kita pastikan tawuran dapat berhenti apabila semua unsur di masyarakat berkomitmen bersama agar Belawan dijadikan kota yang kondusif,” tambah Sulais.
Terpisah, Ketua DPC GRANAT Kota Medan Raja Makayasa Harahap SH berpesan kepada semua aktivis GRANAT terkhusus di Medan Utara agar terus bergerilya memberikan pencerahan terhadap masyarakat agar lebih waspada terhadap peredaran gelap narkotika.
Hal senada juga disampaikan Sekretaris DPC GRANAT Kota Medan Rion Arios SH kalau Kota Belawan sangat rawan dari penjualan narkoba.(Her)