Mengapa Kapoldasu Belum Berani Menutup Tuntas “Judi” di Sumut ?

Headline Kriminal

tobapos.co – Maraknya praktik perjudian di Sumatera Utara, khususnya Kota Medan membuat publik bertanya, apakah “Judi” (303) sudah dilegalkan? Jika tidak, lalu mengapa kepolisian setempat yang berwenang dinilai diam saja dan terkesan membiarkan arena-arena mirip Las Vegas itu terus beroperasi.

Akibatnya, wajar pula bila masyarakat mempertanyakan, mengapa Kapolda Sumut Irjen Pol Panca Putra Simanjuntak dan Pangdam I/BB Mayjen TNI Hassanudin seperti belum berani menutup tuntas “Judi” di Sumatera Utara ?

Siapa sebenarnya sosok para bandar “Judi” tersebut hingga, hingga TNI maupun Polri terkesan enggan berhadapan dengan mereka (bandar), meski saat ini pandemi Covid-19 semakin parah.

Apakah dikarenakan para bandar “Judi” tersebut memiliki koneksi yang luas, serta memberikan kontribusi yang besar terhadap pembangunan di Sumatera Utara khususnya Kota Medan?

Pasalnya, belakangan ini segala bentuk permainan “Judi” tiba-tiba bermunculan bagai virus yang menggerogoti hingga menjadi penyakit masyarakat (pekat), yang merajalela.

Di setiap Kabupaten/Kota segala bentuk perjudian nyaris mendominasi di tengah masyarakat.

Banyaknya bentuk permainan “Judi” tersebut membuat masyarakat berminat mengadu nasib, mulai dari kalangan kelas atas hingga menengah kebawah.

Mirisnya lagi, di tengah wabah corona yang saat ini terus bergejolak hingga diberlakukannya PPKM Darurat di beberapa daerah, arena perjudian tersebut seperti dipelihara.

Padahal sesuai anjuran pemerintah, masyarakat diwajibkan mengikuti aturan sesuai dengan protokol kesehatan (Prokes) pada slogan 5M pada saat pelaksanaan PPKM Darurat haruslah dijalankan, yang tujuannya untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Kerumunan massa di arena perjudian juga harus menjadi perhatian TNI-Polri, karna dikhawatirkan akan menjadi klaster baru penyebaran Covid-19.

Hal ini juga harusnya menjadi perhatian Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang sejatinya digunakan untuk membahas penyelenggaraan urusan pemerintahan umum, yang dibentuk berjenjang mulai dari tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota, dan Kecamatan.

Berdasarkan data yang di peroleh, saat ini sebanyak 12 Kabupaten/Kota yang ada di Sumatera Utara masuk ke dalam kategori level 3 situasi pandemi Covid-19.

Beberapa daerah yang masuk level 3 per 15 Juli 2021, antara lain,

Kabupaten Deliserdang, Simalungun, Karo, Tapanuli Utara, Pematangsiantar, Binjai, Sergai, Tebingtinggi, Padang Sidimpuan, Humbahas, Pakpak Bharat dan Nias.

Dari 12 daerah yang masuk level 3 tersebut hampir seluruhnya dijadikan arena oleh para bandar judi. Seperti, Rizal, K4rdo NGL, Tamsur (TS), Aseng Kayu, AJU, dan bandar lain, Sitanggang & Joker 88, Surya 99.

Menurut anggota Penanganan Bidang Kesehatan Satgas Covid-19, Restuti Handayani Saragih memaparkan, bahwa ke 12 daerah tersebut perlu memperkuat testing, tracing dan treatment (3T)

Adanya penambahan kasus tersebut, membuat Sumut berada di angka tertinggi 1.227 kasus. Rekor tertinggi selama pandemi Covid-19.

Terhadap daerah yang berada di level 3 perlu memperhatikan Bed Occupancy Rate (BOR)-nya, apalagi yang sudah masuk ke kategori hati-hati,” ujar Restuti.

Terkait lokasi dan para bandar judi yang disebutkan di atas, tim media ini sedang berusaha melakukan konfirmasi kepada Kapolda Sumut maupun Pangdam I/BB, guna mendapatkan jawaban dari keduanya. (TIM/foto-ilustrasi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *