Pengkhianatan Hukum Dipertontonkan, Bila Basis Besar Peredaran Narkoba Pantai-Kota Medan Tetap Dibiarkan (15)

Headline Kriminal

tobapos.co – Diketahui setiap institusi  penegak hukum memiliki sumpah yang harus dipegang teguh dalam menjalankan tugas mulia sebagai abdi negara, juga melindungi masyarakatnya dari segala perbuatan berdampak buruk, apalagi yang melanggar hukum.

Dari itu, aturan hukum sejatinya menjadi payung yang harus dijaga kuat setiap aparatnya supaya bisa tegak mengayomi, melayani, melindungi setiap masyarakat yang membutuhkan fungsi hukum itu berjalan.

Namun, bagaimana jadinya bila hukum itu malah dijadikan komoditi berharga yang diperdagangkan mencari uang para aparatnya? Tentunya akan hanya sebahagian saja yang dapat menikmati adanya hukum itu, sedangkan kaum lemah akan terus dan terus menjadi korban kepentingan, dari mereka yang berwenang, yang ada di atas maupun kelompoknya, dan kondisi itu tak lain bisa digambarkan sebagai sebuah bentuk pengkhianatan (hukum) oleh aparat hukum itu sendiri.

Ditarik benang lurus dari kenyataan yang ada soal pengkhianatan hukum tersebut dengan keberadaan basis besar peredaran narkoba yang dikelola kartel, dimana hingga detik ini masih merdeka para bandarnya menjajakan narkoba hingga penyediaan lokasi-lokasi dan sewa alat hisap kepada para penggunanya, berada di kawasan yang terkenal disebut “Pantai atau Pante” di Jalan Kelambir Lima, Kelurahan Lalang, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, Sumut.

Baca Juga :   Judi Togel Ramses Kini Di Pelosok Simalungun? AKBP Agus Waluyo : Sebutkan Lokasinya, Kita Hantam ..

Baca juga..

Lokasi tersebut sejak lama sudah diinformasikan masyarakat kepada pihak berwenang bahkan ke pimpinannya melalui saluran media, ironinya terkesan ada pembiaran, apakah menganggap keresahan masyarakat akan bahaya narkoba bukan tugas tanggung jawab institusinya yang diberikan kewenangan penuh oleh negara, dengan fasilitas dan pendukung tugas lainnya yang besar pula. Sekali lagi, apakah kondisi enggannya bertindak meski (petugasnya) sangat mampu bukan sebuah pengkhianatan serius terhadap masyarakat pula? Jangan biarkan kepercayaan masyarakat terus menggelinding jauh hingga ke dasar jurang karena segelintir oknum yang bertujuan hanya demi memperkaya pribadi atau kelompoknya.

Baru-baru ini lagi, ada bukti rekaman video beredar viral yang menunjukkan maraknya peredaran narkoba sabu-sabu hingga penggunaannya secara ilegal di basis besar “Pantai atau Pante” yang tak butuh waktu lama akan merusak banyak generasi bangsa. Diberikan laporan informasi oleh masyarakat melalui media. Celakanya, malah maraknya narkoba seperti didukung oknum-oknum aparatnya, sehingga terjadilah yang sering disebut kebal hukum, mengerikan bila kekesalan masyarakat memuncak menganggap aparat negara itu tidak ada atau takut dengan mafia narkoba.

Baca Juga :   Wong Chun Sen Ajak Seluruh Masyarakat Jaga Semangat Nasionalisme

Menyalurkan keresahan masyarakat akan keberadaan sarang besar narkoba “Pantai” sekitarnya (Kota Medan) dengan omset bigbosnya (OY, DN, MN Cs) yang sangat fantastis pula, agar bisa ditutup selamanya diganjar hukuman bagi yang terlibat, sebagai pimpinan tertinggi kepolisian saat ini di wilayah hukum Kota Medan dan sekitarnya, orang nomor satu di Polrestabes Medan Kombes Pol Valentino Alfa Tatareda, sejak sekitar 3 bulan lalu dicoba konfirmasi melalui pesan whatsaap hingga ditelepon, tetapi sampai berita ini dimuat kembali (Episode 15), Rabu (18/1/2023), jawaban konfirmasi yang bisa menunjukkan komitmen beliau, belum diterima wartawan, dan tentunya karena merupakan kewajiban wartawan yang diminta Undang-Undang, terus akan dicoba kembali.

Terkini Situasi..

Informasi terkini dari perkampungan basis besar peredaran narkoba “Pantai alias Pante” yang dikelola kartel itu, para pengguna maupun pecandu yang mengkonsumsi disana diarahkan menempati lapak-lapak yang berada di dekat sungai, sang bigbos yang dibantu oknum-oknum aparat, berusaha menggunakan masyarakat sekitar yang biasa mereka berikan siraman untuk menyerang balik wartawan atau pun media yang getol memberitakan.

Untuk pengamanan, pria-pria bertampang sangar juga selalu disuruh  berpatroli mengamati penyusup pura-pura sebagai pengguna atau pecandu yang datang kesana manakala berusaha mengabadikan situasi, dan para kacung juga mengancam akan tak segan-segan “menguliti” bila tertangkap.

Baca Juga :   4 Anggota Kodim 0210 Taput Positif Covid-19

Masih banyak lagi informasi mendebarkan yang diperoleh wartawan dari sumber dan masyarakat tentang kehidupan sosial yang terasa sudah jauh dari adat istiadat, ajaran agama hingga aturan hukum terjadi di pemukiman padat penduduk basis narkoba dengan nama “Pantai alias Pante” tersebut, dan secara berangsur akan diungkap ke publik, supaya bisa menjadi perhatian serius negara dan masyarakat tidak takut melawan para bandit narkoba dengan oknum-oknum aparat dibelakangnya.

Sebelumnya..

Sebagai perimbangan berita seperti yang diminta para oknum dengan mengirim ke email redaksi tobapos, memang terdengar perkampungan narkoba “Pantai” sekitarnya jarang-jarang digrebek petugas. Dan meski digrebek, dalam hitungan menit dan sampai kini para bandar masih bisa merdeka menjajakan sabu-sabunya.

Sekedar agar diketahui, sekira Juni 2022 lalu, Kepala BNNP Sumut Brigjen Pol Toga H Panjaitan di saat memperingati Hari Anti Narkotika Internasional (HANI)  merilis dihadapan Kapolda Sumut Irjen Pol Panca Putra Simanjuntak, Gubernur Edy Rahmayadi, Ketua DPRD Sumut Baskami Ginting dan pimpinan intansi lainnya, bahwa Sumatera Utara dengan Kota Medan sebagai ibukota masih menjadi propinsi tertinggi se Indonesia pengguna juga penyalahgunaan narkotika secara ilegal, dimana jumlahnya sekitar 1,5 juta orang. (TIM/foto-red/ils)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *