Lanjutan Viral Video Ramai Nyabu Di Basis Besar Narkoba Pantai-Kota Medan, “Nyi Roro Kidul” Marah Besar (14)

Headline Kriminal

tobapos.co – Pasca video keramaian pria dan wanita menikmati sabu-sabu yang viral saat mereka sedang asik bercengkrama sembari masing-masing memegangi bong (alat hisap), berlokasi di basis besar peredaran narkoba “Pantai alias Pante” di Jalan Kelambir Lima, Kelurahan Lalang, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, Sumut, kini giliran penampakan para bandarnya  diminta sumber bersama masyarakat diungkap ke publik. Selasa (17/1/2023).

Masih berada dalam video dan info A1 yang diterima wartawan, terlihat silih berganti sepedamotor berpapasan dengan para pecandu yang berjalan kaki melintasi gang-gang di dalam lokasi “Pantai alias Pante”.  Menyodorkan uang, dan tak lama dibungkus plastik klip bening, diberikan bandar yang duduk di belakang meja kepada para pembeli yang berdiri berjajar, lalu pembeli memasuki rumah-rumah ataupun lapak yang memang sudah disedikan sewa alat hisapnya oleh pengelola, lanjut beramai-ramai seperti di acara pesta mengkonsumsinya.

Baca Juga :   Calon Kapolri yang Dibutuhkan Indonesia, Begini Empat Syarat Menurut Pengamat Kepolisian Sudiarto

Ada informasi penting lagi yang harus diketahui masyarakat luas. Terkait pemberitaan sebelumnya dengan judul : https://tobapos.co/viral-video-ramai-nyabu-di-basis-besar-narkoba-pantai-kota-medan-pimpinan-berwenang-jangan-diam-13/. Bukannya lokasi sarang besar peredaran narkoba “Pantai” yang segera diserang petugas ditindak tegas tuntas, malahan wartawan yang mereka yakini sebagai pembuat berita terkesan diintimidasi dengan mendatangi kediamannya, membuat psikologis istri maupun anak  si wartawan yang masih kecil -kecil  merasa tertekan, melihat kedatangan para pria mengaku oknum petugas  secara tiba-tiba, juga kurang ramah.

Baca juga..

Ada lagi yang lebih serius, para petinggi yang membina lokasi sarang besar narkoba “Pantai alias Pante” di balik layar, sering dibilang sebagai “Nyi Roro Kidul” dikabarkan marah besar, sampai-sampai mengutus “Punggawanya” agar lebih ekstra menelusuri pihak yang dirasa mengganggu “Pantai”  istana narkoba mereka.

Baca Juga :   Pak Gub Edy, Di Sarang Judi TS & Tosa Tetap 'Berpesta'

Masih banyak lagi deretan fakta aneh  belakangan ini menghampiri tim media tobapos terkait mengangkat ke publik  kondisi memprihatinkan masyarakat (Kota Medan) khususnya generasi muda akibat dugaan pembiaran peredaran gelap narkoba, bahkan turut sertanya oknum-oknum aparat. Dan akan terus digaungkan secara berkelanjutan berharap datang perubahan yang baik, selalu mengikuti kode etik wartawan sebagai pilar ke empat demokrasi.

Kembali sedikit ke belakang, pasca telak diperoleh wartawan dari masyarakat, video suasana ramainya aktivitas narkoba di lokasi kelolaan kartel (OY, DN, MN) yang santer disebut “Pantai alias Pante” itu, kepada Kapolrestabes Medan Kombes Pol Valentino Alfa Tatareda dicoba konfirmasi, namun hingga berita dimuat jawaban masih ditunggu.

Terkait lokasi peredaran narkoba terbesar dengan omset besar pula yang ada di inti Kota Medan tersebut, bila belum juga didapat jawaban dari mantan Dirlantas Polda Sumut itu, ke tingkat di atasnya serta BNN Sumut akan pula dilakukan konfirmasi sekaligus diberikan informasi.

Baca Juga :   Tindaklanjuti Instruksi Presiden, Bobby Nasution Gelar Rapat Tekan Inflasi Medan Di Bawah 5 Persen

Sebagai perimbangan berita seperti yang diminta para oknum dengan mengirim ke email redaksi tobapos, memang terdengar perkampungan narkoba “Pantai” sekitarnya jarang-jarang digrebek petugas. Dan meski digrebek, dalam hitungan menit dan sampai kini para bandar masih bisa merdeka menjajakan sabu-sabunya.

Sekedar agar diketahui, sekira Juni 2022 lalu, Kepala BNNP Sumut Brigjen Pol Toga H Panjaitan di saat memperingati Hari Anti Narkotika Internasional (HANI)  merilis dihadapan Kapolda Sumut Irjen Pol Panca Putra Simanjuntak, Gubernur Edy Rahmayadi, Ketua DPRD Sumut Baskami Ginting dan pimpinan intansi lainnya, bahwa Sumatera Utara dengan Kota Medan sebagai ibukota masih menjadi propinsi tertinggi se Indonesia pengguna juga penyalahgunaan narkotika secara ilegal, dimana jumlahnya sekitar 1,5 juta orang. (TIM/foto-red/ils)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *