Kanit Reskrim Polsek Sunggal Kangkangi Konsep Presisi Kapolri? Laporan Korban Penganiayaan Dua Bulan Jalan Di Tempat

Headline Kriminal

tobapos.co – Konsep Transformasi Polri yang Presisi merupakan slogan Kapolri Listyo Sigit Prabowo dalam melayani masyarakat, demi memberikan keadilan dan kepastian hukum.

Kapolri juga menyatakan, bahwa melalui pendekatan akan membuat pelayanan lebih terintegrasi, modern, mudah, dan cepat.

Namun sayang, jika ada fakta yang terjadi malah sebaliknya, masyarakat yang ingin mencari keadilan justru diduga menjadi korban kriminalisasi hukum oleh oknum aparat Polri.

Seperti yang dialami Dedy Gunawan Ritonga (31), korban tindak pidana penganiayaan secara bersama-sama yang terjadi pada Sabtu, 27 Maret 2021, sekira Pukul:18.25 WIB, di Komplek Taman Setia Budi Indah I Blok CC No. 12, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan.

Akibat penganiayaan yang diduga dilakukan Edy Iriansyah Cs (terlapor), korban (pelapor) Dedy Gunawan Ritonga (31), mengalami memar dan luka pada bagian pundak sebelah kanan, bengkak pada bagian kepala, serta bagian pipi sebelah kiri.

Kanit Reskrim Polsek Sunggal, AKP Budiman Simanjuntak//

Menurut pengakuan Dedy Gunawan Ritonga kepada tobapos.co, Selasa (25/5/2021), kasus tindak pidana penganiayaan yang dialaminya tersebut sudah dilaporkan ke Polsek Medan Sunggal, sesuai dengan bukti pengaduan nomor : LP / 106 / K / III /2021/SPKT Polsek Sunggal tertanggal 27 Maret 2021.

Baca Juga :   Gubsu Edy Ingatkan agar Calon Haji Fokus Ibadah

Herannya, sudah dua bulan dilakukan pemeriksaan hingga gelar perkara, namun Polsek Medan Sunggal diketahui belum juga menetapkan status tersangka terhadap Edy Iriansyah Cs (terlapor), meski dirasa alat bukti sudah lebih dari cukup.

“Kamis besok tanggal 27 Mei 2021 genap dua bulan laporan ku. Herannya sampai sekarang prosesnya terkesan jalan di tempat dan tidak ada tindak lanjut. Apakah ini yang dinamakan melayani masyarakat ?,” tutur Dedy dengan mimik kecewa.

Dedy lebih lanjut mengungkapkan, bahwa sejak awal saat setelah di BAP, dia mengaku merasakan seperti mendapat tekanan dan intimidasi dari Kanit Reskrim Polsek Medan Sunggal AKP Budiman Simanjuntak.

“Pada saat setelah saya di BAP Penyidik, AKP Budiman malah bilang tunggu hasil visum baru bisa dilakukan BAP. Dia bahkan menuduh saya telah memaksa Penyidik untuk membuat BAP. Apa pantas seorang Kanit mengatakan seperti itu kepada masyarakat yang notabene ingin mencari keadilan?”ungkap Dedy.

Bukti laporan Korban//

Saat ditanya apakah dalam proses penangan kasus penganiayaan yang dilaporkannya tersebut merasa terjadi kejanggalan dan melanggar Peraturan Kapolri ?

Baca Juga :   Test Covid-19 Hari Ini, Di Jakarta 749 Positif, 6.097 Negatif

“Jelas banyak kejanggalan bang, yang saya laporkan itu Edy Iriansyah Cs, setelah kejadian itu saya langsung buat laporan dengan bukti visum berikut dua saksi. Nah belakangan saya dilaporkan kasus KDRT oleh Istri saya di Polsek Sunggal ini. Korelasinya dimana bang?” bebernya.

Lanjut masih menurut Dedy, bahwa apa yang dilakukan AKP Budiman Simanjuntak terhadap dirinya adalah bentuk dugaan kriminalisasi hukum dan melanggar Peraturan Kapolri (Perkap) no 6 tahun 2019.

Bahwa dalam melaksanakan tugas penegakan hukum, Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia mempunyai tugas, fungsi, dan wewenang di bidang penyidikan tindak pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan, yang dilaksanakan secara profesional, transparan dan akuntabel terhadap setiap perkara pidana, guna terwujudnya supremasi hukum yang mencerminkan kepastian hukum, rasa keadilan dan kemanfaatan.

“Saya berharap apa yang saya alami ini mendapat respon Kapolri, sehingga masyarakat yang mencari keadilan tidak lagi dizolimin,” pungkasnya.

Luka di Tubuh Korban//

Terpisah, Kanit Reskrim Polsek Medan Sunggal AKP Budiman Simanjuntak, SE, MH saat dikonfirmasi tim tobapos.co, terkait sejauh mana penanganan dan tindak lanjut kasus penganiayaan yang dilaporkan Dedy Gunawan Ritonga, Senin (24/5/2021), malah meminta wartawan agar mempertanyakannya kepada Dedy (pelapor).

Baca Juga :   Kapolda Sumut : 253 Pengunjukrasa Anarkis Diamankan, 21 Orang Reaktif Covid-19

“Tanya sama si Dedy-nya lah,” kata AKP Budiman seketika menutup sambungan telepon whatsapp.

Merasa pernyataan AKP Budiman tersebut terkesan melecehkan dan tidak tranparan? Awak media ini mencoba mempertanyakan maksud dan tujuan pernyataan AKP Budiman tersebut. Namun sayangnya Budiman lebih dahulu memblokir hubungan whatsapp tim tobapos.co, dan hingga kini, Rabu (26/5/2021), belum ada balasan.

Seperti diketahui, dalam memperbaiki citra Polri, Kapolri Listyo Sigit Prabowo berkomitmen dengan konsep Transformasi Polri yang Presisi: prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan.

Kapolri juga berjanji akan memenuhi rasa keadilan dengan mengedepankan instrumen hukum progresif melalui penyelesaian dengan prinsip keadilan restoratif.

Pertanyaannya, apakah komitmen dan konsep Transformasi Polri yang Presisi sesuai yang dicetuskan Kapolri tersebut sudah benar-benar dilaksanakan anggota Polri ?

Untuk membuktikan konsep dan komitmen dijalankan, sepertinya Kapolri harus “turun gunung”, seperti apa sebenarnya penerapan tindak lanjut penanganan laporan masyarakat selama ini. Jangan sampai akibat ulah segelintir oknum akan menjadi momok buruk bagi institusi Polri. (TP – TIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *