Virus Flu Babi, Kementan Klaim Perketat Lalu Lintas Hewan

Ekonomi

tobapos.co– Badan Karantina Kementerian Pertanianmengklaim telah memitigasi risiko lalu lintas hewan, khususnya babi dan produk babi sejak Maret 2020 lalu. Mitigasi risiko seiring dengan temuan baru virus flu babiyang berpotensi menjadi pandemi baru.

Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani Kementan Agus Sunanto menjelaskan pihaknya telah mengantisipasi potensi penyebaran virus flu babi (swine flu) G4 EA H1N1 sejak merebaknya kasus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika pada tahun lalu di China.

“Terkait flu babi, sebenarnya kami sudah membuat edaran yang sama pada Maret sebelumnya untuk mengantisipasi mutasi flu babi. Kejadian ASF sudah kami buat edaran untuk melakukan pengetatan pemasukan babi dan produknya,” kata Agus Sunanto, mengutip Antara, Selasa (7/7).

Agus menjelaskan bahwa Badan Karantina Pertanian telah siap melakukan mitigasi flu babi, terutama sejak kasus demam babi Afrika merebak di Sumatera Utara sejak pertengahan tahun lalu.

Pihaknya pun telah mengeluarkan Surat Edaran Badan Karantina Pertanian Nomor B 3662-KR110/K.2/03.2020 pada 10 Maret 2020 tentang Mitigasi Risiko virus ASF, classical swine fever (CSF) dan swine flu (influenza A).

Dengan instruksi ini, setiap unit pelaksana teknis (UPT) di lingkup Badan Karantina Pertanian memonitor influenza A pada babi yang lalu lalang di seluruh Indonesia.

Agus juga menyebutkan secara internal pihaknya melakukan bimbingan teknis laboratorium untuk seluruh unit kerja karantina pertanian dalam pengembangan uji influenza A, swine flu H1N1 melalui unit pelaksana teknisnya di Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian.

Sementara itu, Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil menyebutkan bahwa potensi ancaman penyebaran virus flu babi perlu disikapi dengan tepat.

Mitigasi risiko, peningkatan biosekuriti dan penguatan pengawasan di tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran yang dilakukan pihak karantina pertanian juga harus dibarengi dengan peran serta masyarakat.

“Bagi masyarakat diharapkan menangani makanan dengan bersih dan baik. Sementara, untuk para peternak diminta untuk menerapkan cara biosekuriti yang tepat, antara lain menjaga kebersihan kandang dan lalulintas orang keluar masuk ke kandang,” tandas Ali.
(sumbercnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *