Singapura Catat Rekor Tertinggi Mingguan DBD sejak 2013

Internasional

tobapos.co– Singapura mencatat 895 orang terinfeksi penyakit demam berdarah (DBD) dalam lima setengah hari. Jumlah kasus DBD tersebut merupakan angka mingguan tertinggi sejak 2013.

Penemuan kasus baru didapati dalam rentang waktu 7 Juni sampai 12 Juni tepat pukul 15.00 waktu setempat. Menurut data Badan Lingkungan Nasional (NEA), jumlah kasus DBD Singapura hingga Jumat (12/6) mencapai 10.732 kasus.

Pada tahun ini, setidaknya ada 12 orang yang dinyatakan meninggal karena demam berdarah. Di antara korban meninggal termasuk lansia berusia 56 sampai 80 tahun. Puncak demam berdarah di Singapura sendiri terjadi pada Juni hingga Oktober.

“Musim puncak demam berdarah tradisional dapat berlangsung selama beberapa bulan, dari Juni hingga Oktober, sehingga tindakan segera harus diambil untuk memutus penularan penyakit,” papar NEA dikutip Channel News Asia, Sabtu (13/6).

Pekan lalu, NEA pun memperingatkan jumlah kasus berpotensi kembali mencetak rekor apabila tidak ada tindakan masif untuk menghindari DBD.

Terakhir kali, kasus DBD Singapura bisa menembus 800 kasus pada tahun 2013 dan 2014. Kala itu kasus DBD per minggu bisa mencapai 840 sampai 891 kasus.

Jumlah total kasus DBD Singapura tahun ini diperkirakan bakal melebihi jumlah kasus tahun lalu, 15.998 kasus, maupun 2013, 22.170 kasus.

Kasus mingguan pada empat bulan ke belakang tercatat pada angka 300 sampai 400. Meskipun itu sudah termasuk tinggi, pada Mei lalu kasus mingguan terus meningkat sekitar 500 sampai 732 kasus.

Pada Juni, kasus per minggu terus naik hingga 800 kasus. Pekan lalu, antara 31 Mei sampai 6 Juni, ditemukan 870 kasus demam berdarah di Singapura.

Peningkatan ini diduga salah satunya karena muncul serotipe virus dengue baru yang belum umum, yakni DENV-3. Karena kekebalan terhadap serotipe ini masih rendah, akibatnya penularan semakin cepat.

Terdapat 210 kluster dengue aktif yang ditemukan pada Sabtu lalu. Di antaranya, NEA mengatakan sebanyak 66 dinilai berisiko tinggi.

Rinciannya sebanyak 207 kasus datang dari wilayah Woodleigh Close; 142 kasus di Potong Pasir Avenue 1, Avenue 2, dan Avenue 3; dan 135 kasus di Tampines Avenue 7.

NEA menyatakan jumlah daerah perkembangbiakan nyamuk di Singapura meningkat hingga lima kali lipat. Kebanyakan larva ditemukan di rumah dan koridor umum di daerah perumahan.

Untuk itu NEA menyampaikan agar masyarakat memastikan rumah dan kebun mereka bebas dari sarang nyamuk. Masyarakat pun diminta rajin menyemprotkan insektisida aerosol dan semprotan anti nyamuk untuk melindungi diri.

Mereka mengingatkan nyamuk aedes aegypti senang berdiam di ruang tertutup dan menggigit di siang hari. Dan di tengah pandemi covid-19, banyak orang berdiam di rumah di daerah populasi nyamuk tinggi.

Pemakaian kasa nyamuk sampai memastikan ventilasi di rumah sesuai standar kesehatan juga membantu menghindari sarang nyamuk. Kemudian, membalik pot bunga, ember dan membersihkan selokan dan atap rumah(sumbercnn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *