Selain Ada Karyawan ‘Naga Bonar’, Penanganan Kredit Macet di Bank Sumut Jelek

Headline Korupsi

tobapos.co – Direktur Utama Bank Sumut melalui Humas, Sulaiman terkesan mengelak saat dikonfirmasi wartawan soal sorotan Komisi C DPRD Sumut tentang kredit macet yang ditengarai ‘marak’ di Bank Sumut.

Awalnya ketika Sulaiman dihubungi, Selasa (30/6/2020) dirinya enggan menerima panggilan. Diminta komentarnya melalui percakapan whatsaap Sulaiman tak merespon. Lalu setelah wartawan berulangkali menelpon selulernya, dia mengaku sedang rapat.

“Maaf bang, saya lagi rapat. Nanti usai rapat akan saya hubungi. Masalah koreksi dan sorotan Komisi C itu, nanti akan saya klarifikasi bang,” ujarnya.

Sebelumnya DPRD Sumut membeberkan kinerja PT Bank Sumut dalam menekan Non Perfoming Loan (NPL) atau kredit macet nasabah. Komisi C menyimpulkan penanganan NPL bank berplat merah itu jelek.

“Rata-rata kantor Cabang Bank Sumut yang kami kunjungi NPL-nya sangat jelek,” kata anggota Komisi C DPRD Sumut Benny Sihotang pada rapat dengar pendapat dengan jajaran direksi Bank Sumut di gedung dewan, Senin (29/06/2020).

Rapat yang dipimpin Ketua Komisi C Ajie Karim dan dihadiri Direktur Utama Bank Sumut Budi Utomo dan jajaran direksi lainnya (foto-red), politisi Gerindra itu menilai paparan direksi dalam strategi menurunkan grafik NPL tidak menunjukkan hasil memuaskan.

“Hampir seluruh kantor cabang NPL-nya buruk. Kami berkata apa adanya. Ini kami catat. Kalau jelek kami bilang jelek. Bagus kami bilang bagus. Contohnya Cabang Bank Sumut di Sidikalang. NPL-nya 6 bagus. Laporan keuangannya baik. Cabang lain kinerjanya jelek,” kata Benny seraya berharap cabang-cabang lainnya belajar dari cabang Sidikalang.

Benny juga mendesak pihak manajemen Bank Sumut secepatnya melakukan perubahan-perubahan agar laporan keuangan bank menjadi lebih baik.

“Fungsi pengawasan kami selaku wakil rakyat akan terus kami lakukan. Misalnya soal NPL, sampai dimana penyelesaiannya. Apa saja langkahnya,” katanya.

Dalam rapat itu Benny juga mempertanyakan pihak inspektorat tidak melakukan audit terkait laporan keuangan PT Bank Sumut secara keseluruhan.

“Persoalan ini akan terus saya kejar kenapa Inspektorat tidak melakukan audit. Alasan Inspektorat Bank Sumut sudah menjadi Tbk. Padahal kan belum,” katanya.

Komisi C, kata Benny yang tahu betul seluk beluk kinerja perbankan, mengatakan pihaknya mengkritisi Bank Sumut tujuannya agar kinerja bank lebih bagus lagi ke depannya. Termasuk juga tentang keberadaan karyawan ‘Naga Bonar’ di perusahaan milik Pemprov Sumut itu.

“Ada saya temui karyawan ‘Naga Bonar’. Lantaran kedekatannya dengan pihak direksi, karyawan yang jenjangnya masih Grade 2 misalnya, bisa lompat menjadi Grade 5. Masih ada orangnya. Gak mungkin saya sebutkan namanya. Semoga ini tidak terjadi lagi. Saya tidak tahu apakah ini terjadi di manajemen lama atau baru,” bebernya.

Benny berharap Bank Sumut dalam melakukan ekspansi jangan selalu berharap adanya suntikan modal di mana kondisi keuangan Pemprov Sumut saat ini belum stabil dampak pandemi.

“Kalau mengandalkan penyertaan modal, pemerintah saat ini ngos-ngosan. Coba cari sumber-sumber lain,” katanya.

Sementara Dirut Bank Sumut Budi Utomo memaparkan kinerja perusahaan yang dipimpinnya. Termasuk mengatasi kredit macet, penyaluran CSR perusahaan ke pemkab/pemko yang memiliki saham di bank tersebut.

Untuk strategi Bank Sumut dalam menurunkan kredit bermasalah, beber Budi Utomo, pihaknya melakukan 4 langkah. Yakni penagihan langsung dan surat peringatan kepada debitor, restrukturisasi kredit bagi debitor terdampak Covid-19 dan masyarakat umum, eksekusi tanggungan bagi debitor yang membandal atau sulit diketahui keberadaannya dan hapus buku.

Dalam pemulihan ekonomi Sumut, kata dia, Bank Sumut melakukan percepatan di sektor UMKM dan sektor pariwisata lokal.

“Termasuk juga Wisata Sawah di Desa Pematang Johar, Deliserdang yang saat ini terus bergeliat. Dan juga kerja sama dengan BumDes di bidang pertanian,” katanya.(MM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *