Olahraga Tanpa Penonton, Ujian Kehilangan Setengah Jiwa

Olahraga

 tobapos.co– Kemendagri mengeluarkan rekomendasi ajang olahraga tanpa penonton. Hal ini jadi tantangan berat bagi operator penyelenggara turnamen dan kompetisi di Indonesia di waktu new normal usai pandemi corona.

Tiap tahunnya, Indonesia jadi tuan rumah Indonesia Open, salah satu seri turnamen badminton BWF. Indonesia Open bahkan masuk dalam satu dari tiga seri yang berada dalam kelas Super 1000, bersama All England dan China Open. Indonesia Open pun seringkali terpilih jadi turnamen terbaik dan hal itu tak lepas dari penyelenggaraan termasuk juga lantaran gairah penonton yang terlihat sepanjang turnamen.

Ketua Panitia Pelaksana Indonesia Open, Achmad Budiharto mengaku masih menunggu perkembangan lebih lanjut terkait situasi yang ada di Indonesia maupun dunia.
“Penyelenggaraan Indonesia Open di bulan November, kita masih harus melihat perkembangan selama beberapa bulan ke depan. Apa yang terjadi dan barulah dari situ kita bisa mengambil langkah dan keputusan,” tutur Budi kepada CNNIndonesia.com.

Budi mengakui bahwa penjualan tiket penonton tidak menutupi operasional penyelenggaraan turnamen Indonesia Open tiap tahunnya. Dengan kapasitas Istora Gelora Bung Karno di bawah 10 ribu penonton, uang hasil penjualan tiket hanya menyumbang sekian persen pemasukan.

Budi menyatakan pihak sponsor, dalam hal ini Blibli tetap berkomitmen dalam penyelenggaraan Indonesia Open tahun ini.

“Penyelenggaraan Indonesia Open di bulan November, kita masih harus melihat perkembangan selama beberapa bulan ke depan. Apa yang terjadi dan barulah dari situ kita bisa mengambil langkah dan keputusan,” tutur Budi kepada CNNIndonesia.com.

Budi mengakui bahwa penjualan tiket penonton tidak menutupi operasional penyelenggaraan turnamen Indonesia Open tiap tahunnya. Dengan kapasitas Istora Gelora Bung Karno di bawah 10 ribu penonton, uang hasil penjualan tiket hanya menyumbang sekian persen pemasukan.

Budi menyatakan pihak sponsor, dalam hal ini Blibli tetap berkomitmen dalam penyelenggaraan Indonesia Open tahun ini.

“Hitung saja uang hadiah yang harus disediakan untuk turnamen. Lalu misal hitung kapasitas Istora dengan harga tiket. Dari situ bisa dilihat bahwa uang hasil penjualan tiket jauh di bawah biaya operasional.”

“Namun penonton adalah salah satu alasan turnamen ini digelar. Karena kami ingin menunjukkan aksi-aksi pemain dan pertandingan pada penonton,” ucap Budi.

Direktur Utama IBL Junas Miradiarsyah menyebut IBL terus menyelenggarakan rapat berkala demi memantau situasi untuk mengatur kemungkinan kembali bergulirnya IBL.

“Situasi saat ini berubah dalam hitungan hari. Itu yang terus kami pantau dan rapatkan. Sejak berhenti di April lalu, kami memang merencanakan September sebagai waktu kemungkinan untuk kembali menggelar kompetisi.”

“Sejauh ini kami masih optimistis untuk bisa kembali menggelar laga lanjutan IBL,” tutur Junas.

Junas menyatakan sudah mengetahui surat edaran Kemendagri dan mengakui laga IBL tanpa penonton bakal berpengaruh pada pos pemasukan.

“Tentu akan berpengaruh dari segi pemasukan lewat tiket penonton. Namun yang harus diperhatikan adalah dampak ketiadaan penonton terhadap sponsor.”

“Sponsor tentu hadir karena ingin memiliki value di mata penonton yang hadir langsung di stadion,” tutur Junas.

Karena itu Junas menegaskan IBL telah menggodok formula agar value yang didapat sponsor bisa tetap sama meskipun penonton tidak hadir di stadion bila nantinya peraturan itu tetap berlaku saat IBL kembali diselenggarakan.

“Sekarang zaman digital, jadi kami akan berupaya meningkatkan value untuk sponsor lewat berbagai cara misal di media sosial dan youtube agar value yang diterima oleh sponsor tak berkurang.”

Hal lain yang harus diperhatikan IBL adalah pemilihan tuan rumah seri IBL karena izin penyelenggaraan pertandingan merupakan kewenangan Pemda setempat.
(sumbercnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *