LAPAN Soal Kiamat Suku Maya 21 Juni: Tak Masuk Akal

Teknologi

tobapos.co–Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) mengatakan bahwa pernyataan salah satu teori konspirasi Paolo Tagaloguin soal kiamat akan terjadi pada 21 Juni 2020 berdasarkan kalender Julian tidak masuk akal.

Menurut peneliti LAPAN Rhorom Priyatikanto, Tagaloguin hanya mencocok-cocokkan saja tanpa dasar yang kuat.

“Pemikiran Tagaloguin yang menggunakan aturan kalender Julian tidak masuk akal. Hanya cocok-mencocokkan tanpa dasar yang kuat,” kata Rhorom saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (19/6).

Sebelumnya, lewat cuitan di akun Twitter pribadi, Paolo mengatakan bahwa ia telah menghitung ulang tanggal berakhirnya kalender Long Count Mesoamerika.

Ia mencatat ada perbedaan dalam cara perhitungan kalender. Oleh karena itu, tak sedikit kalangan yang mengatakan tanggal sebenarnya kalender Maya berakhir pada 21 Juni 2020 atau hari Minggu pekan ini.

Setelah itu Paolo melakukan perhitungan dengan kalender Julian. Berdasarkan kalender tersebut, saat ini Bumi masih berada di tahun 2012.

Rhorom menjelaskan sebetulnya periode Bumi mengitari Matahari atau juga bisa disebut satu tahun tropis, rata-rata adalah 365,2422 hari. Namun diterjemahkan jadi satu tahun Julian yaitu 365,25 hari.

Maka ada selisih 0,0078 hari karena perhitungan astronomi yang terbatas saat itu. Lalu Rhorom mengatakan beberapa waktu ini para ahli teori konspirasi menerapkan satu tahun Gregorian yakni 365,2425 hari, selisihnya hanya 0,0003 hari.

Oleh sebab itu Rhorom menegaskan bahwa sistem kalender yang ditetapkan suku Maya berbeda dengan kalender lain.

“Satuan waktu dalam kalender Maya tentu berbeda, tidak bisa serta-merta dicocok-cocokkan dengan sistem kaledar lain tanpa dasar yang jelas,” tegasnya.

Isu yang dikaitkan dengan ‘kiamat’ tentunya menjadi topik yang sangat meresahkan masyarakat sebab merupakan hari kehancuran dunia. Kiamat juga diartikan sebagai hari kebangkitan umat.

Hanya satu pesan Rhorom yaitu ia meminta kepada masyarakat untuk tidak langsung percaya dengan teori-teori konspirasi soal kiamat.

“Jangan mudah termakan teori konspirasi. Itu hanya untuk olahraga otak,” pungkasnya.

Senada dengan Rhorom, Profesor Arkeologi Mesoamerika di Institut Arkeologi UCL, Inggris, Elizabeth Graham mengatakan perhitungan ulang Tagaloguin tidak masuk akal karena bangsa Maya menghitung hari, bukan tahun, Kalender Maya mengacu pada akhir putaran atau siklus kalender utama yang disebut baktun.

“Baktun adalah 144 ribu hari. Bangsa Maya tidak menghitung dengan apa yang kita sebut sebagai ‘tahun’. Mereka hanya menggunakan hari. Jadi mereka tidak perlu khawatir tentang ‘tahun’ memiliki jumlah hari yang tidak tepat,” ujar Graham.

Tanggal asli kalender Long Count Mesoamerika seharusnya berakhir adalah 21 Desember 2012. Sebenarnya, suku Maya kuno percaya bahwa pada titik ini, peristiwa transformasi akan terjadi. Beberapa menafsirkan ini untuk menyarankan acara berarti kiamat, tetapi sebagian besar ahli percaya itu mewakili transformasi positif dan menandai era baru.

Profesor Arkeologi Mesoamerika di Institut Arkeologi UCL, Inggris, Elizabeth Graham mengatakan bahwa orang Maya tidak pernah meramalkan akhir dunia atau hari kiamat. Dia mengatakan glif muncul dan didirikan oleh seorang raja.

(sumbercnn) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *