Kepala Panti Asuhan Diminta Dihukum Kebiri, Anak Perempuan Dibawah Umur 7 Tahun Digagahi

Kriminal

tobapos.co – Sidang lanjutan kasus dugaan pemerkosaan dan pencabulan yang dilakukan oknum Kepala Panti Asuhan Simpang Tiga berinisial ENS (48) kepada korban berinisial WL (14) kembali digelar di ruang Cakra V Pengadilan Negeri Medan, Selasa (14/07/2020).

Persidangan yang beragendakan mendengarkan keterangan para saksi digelar secara tertutup untuk umum dan dipimpin oleh ketua majelis hakim Ahmad Sumardi. Ada 5 saksi yang dihadirkan dalam persidangan kali ini, diantaranya korban WL yang merupakan anak panti asuhan tersebut.

Dalam persidangan yang berlangsung sekitar kurang lebih 1 jam digelar secara virtual. Hadir dalam sidang yakni majelis hakim, Jaksa Penuntut Umum (JPU), pengacara terdakwa dan sejumlah pihak lain yang terkait dengan perkara. Sementara terdakwa ENS menjalani sidang melalui teleconference dari tahanan Polda Sumut.

Usai persidangan, JPU Robert Silalahi saat dikonfirmasi wartawan mengatakan terdakwa ENS merupakan Kepala Panti Asuhan Simpang Tiga, di panti asuhan tersebut mempunyai anak asuh sebanyak 25 orang berasal dari keluarga miskin yang dibiayai dan di sekolakan oleh terdakwa.

“Terdakwa yang merupakan Kepala Panti Asuhan ini memegang, memasukan jarinya ke alat vital korban, yang dilakukan selama 7 tahun,” kata JPU Robert Silalahi.

Selain itu, terdakwa ENS juga merupakan seorang guru di salah satu sekolah yang berada di Kota Medan.

“Pada bulan Desember 2019,  korban mengadukan kejadian yang dialaminya kepada teman sekolahnya, selanjutnya teman korban melaporkan hal ini ke Kepala Lingkungan (Kepling) dan dilanjutkan ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,” ujar Jaksa. 

Dikatakan JPU, tadi kita menghadirkan 5 saksi diantaranya korban WL, namun baru 3 saksi yang baru dimintai keterangannya.

“Kedua saksi lainnya, kita minta keterangannya pada sidang berikutnya, salah satu saksi yakni istri terdakwa,” ujar JPU Robert Silalahi. 

Terpisah, Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Komala Sari SH MH (foto) mengatakan perbuatan Kepala Panti Simpang Tiga, terdakwa ENS sangat biadab dan memalukan. 

“Selama 7 tahun, terdakwa tersebut tega melakukan pemerkosaan terhadap anak berusia 14 tahun, Bahkan, perbuatan ENS membuat korban yang merupakan anak Panti Asuhan Simpang Tiga itu mengalami trauma sangat mendalam,” ujar Komala Sari yang juga merupakan Advokat ini.

Komala Sari juga mengungkapkan bahwa traumanya ini sangat luar biasa, soalnya dari umur 7 tahun sampai umur 14 tahun dilecehkan secara seksual.

“Perbuatan terdakwa sangat keji, dari umur 7 tahun sampai umur 10 tahun, terdakwa ENS melakukan pemerkosaan dengan menggunakan alat kelaminnya. Setelah korban berumur 10 tahun dan sudah menstruasi, dia (terdakwa ENS-red) menggantikan caranya dengan menggunakan jari (tangan) yang dimasuki ke alat kelamin korban sampai umur 14 tahun,” beber Komala Sari.

Komala Sari berharap agar terdakwa ENS dihukum dengan seberat-beratnya. 

“Kalau bisa dihukum kebiri. Karena ini perbuatan yang sangat keji,” harapnya.

Sementara itu, perwakilan dari LBH Apik, Cut Betty juga sependapat dengan LPAI. Menurutnya, perbuatan terdakwa sangat tidak manusiawi karena korban telah diperkosa dari usia 7 tahun. “Pemerkosaan itu dilakukan hampir setiap harinya yang membuat korban mengalami trauma berat,” ucapnya.

Cut Betty menerangkan, awalnya kasus ini ditangani oleh LSM yang berada di Medan dan merujuk ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak. Pasalnya, penanganan Polda Sumut terkait kasus pelecehan seksual ini terkesan sangat lambat.

“Karena Polda Sumut terkesan lambat menangani kasus ini, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak memberikan kuasa kepada saya. Alhamdulillah kasus ini akhirnya dapat diselesaikan dalam waktu 2 minggu dan tersangka langsung ditahan,” pungkasnya.(KM-6)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *