Jonathan Sihotang TKI Di Malaysia Korban Perbudakan Minta Perlindungan Hukum Kepada Presiden Jokowi

Headline Internasional

tobapos.co – Dewan Pimpinan Pusat Relawan Doakan Jokowi Menang (DPP DJM) 1 Kali Lagi meminta Presiden Republik Indonesia Ir H. Joko Widodo untuk memberikan perlindungan hukum kepada Jonathan Sihotang korban ‘human trafficking’ (perbudakan) yang dalam waktu dekat akan di hukum mati di Malaysia.

Hal ini disampaikan Sekretaris Umum DPP Relawan DJM 1 Kali Lagi Abednego Panjaitan, Sabtu (18/07/2020) di Jakarta.

Dikatakan Abednego, Jonathan Sihotang merupakan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang diperlakukan secara tidak adil di Negara Malaysia. Dia bekerja disana agar dapat membiayai istri dan kedua anaknya yang masih kecil-kecil, satu perempuan saat ini berusia 8 tahun dan satu lagi laki-laki berusia 2,5 tahun.

Pria (Jonathan Sihotang) yang tercatat sebagai warga Jalan Damar Laut, Kecamatan Siantar Utara itu terancam hukuman mati karena disangka membunuh majikannya, Sia Seok Nee (44) di Kilang Toto Food Trading, Kampung Selamat, Tasek Gelugor, Malaysia pada 19 Desember 2018, silam.

Diterima informasi, Jonathan membunuh majikannya itu diduga karena kesal dan kecewa karena tidak diberikan gajinya selama 1 tahun. Padahal, anak dan istrinya membutuhkan biaya besar di kampung halaman.

Jonathan sempat mendesak majikannya agar membayarkan gajinya, namun jawaban yang didapatnya jika masuk Malaysia lagi baru gaji akan dilunasi. Pun demikian Jonathan masih bersabar, namun ternyata apa yang disepakati tidak sesuai, malah majikannya itu mengurangi jumlahnya sehingga timbul emosi dan berlanjut kepada pembunuhan.

“Jonathan Sihotang tidak bisa lagi membendung emosinya ketika majikannya melemparkan sebagian upahnya ke bagian wajahnya (Jonathan), apalagi uang yang akan diberikan sangat tidak manusiawi, dari RM 15.000 menjadi RM 3000 saja. Tak bisa membendung emosinya, kemudian Jonathan Sihotang spontan mengambil parang daging yang tidak jauh dari mereka lalu membunuh majikannya itu,” papar Abednego Panjaitan, yang saat ini menjabat sebagai anggota Lembaga Kerjasama Tripartit Propinsi Sumatera Utara.

Oleh karena itu, kata Abednego, selaku aktivis Buruh dan Pimpinan Serikat Buruh, ia meminta kepada Presiden Republik Indonesia, Menteri Tenaga Kerja RI, Menteri Luar Negeri RI dan Gubernur Sumatera Utara beserta seluruh jajarannya agar kompak dan bekerja keras dalam membela dan membebaskan warga Sumatera Utara Jonathan Sihotang dari ancaman hukuman mati, karena dalam waktu dekat akan menerima putusan akhir atau yang ketiga kalinya dari Pengadilan Malaysia.  

Apalagi, saat ini Jonatan Sihotang sudah mengakui kesalahanya karena membunuh dan memohon maaf karena khilaf kepada keluarga majikannya serta meminta pemerintah Malaysia dapat meringankan hukumannya dari hukuman mati menjadi hukuman seringan-ringannya.

Sementara itu, Keluarga Besar Perkumpulan Marga Sihotang se Indonesia dan Human Trafficking Watch-HTW memohon agar negara dan pemerintah Cq Presiden Cq Kemenlu memberikan perlindungan jukum dan dukungan diplomatik atas ancaman hukuman mati kepada Jonathan Sihotang di Pengadilan Penang dan saat ini  ditahan di Penjara Pulau Pinang, Georgetown Malaysia.

Melalui relis berita yang diterima redaksi, mencermati permintaan Jonathan Sihotang kepada perkumpulan Marga Sihotang, maka Perkumpulan Marga Sihotang langsung membentuk tim untuk melaksanakan hal-hal yang dapat dilakukan guna melakukan upaya untuk dapat meringankan ancaman hukuman mati tersebut, termasuk dalam waktu dekat akan melaksanakan kunjungan kepada Jonathan dan pihak-pihak yang terkait dalam kasus ini di Malaysia.

“Kepada kita semua Marga Sihotang, kita harus mengakui bahwa perbuatan membunuh adalah perbuatan yang salah dan harus di hukum. Maka zaya imbau mari kita berdoa sesuai gama dan kepercayaan masing-masing agar kiranya ancaman hukuman mati ini bisa dipertimbangkan oleh Para Hakim dan Keluarga Sia Seok Nee dan Pemerintah Malaysia,” imbau perwakilan Marga Sihotang (TP/rel)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *