Jelang Pengumuman The Fed, Rupiah Stagnan di Level Rp14.535

Ekonomi

tobapos.co– Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.535 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Selasa (28/7) sore. Posisi tersebut stagnan dibandingkan perdagangan Senin (27/7) sore di level Rp14.535 per dolar AS.

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.543 per dolar AS atau menguat dibandingkan posisi kemarin yakni Rp14.605 per dolar AS.

Sore ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau melemah terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah 0,05 persen, dolar Singapura melemah 0,10 persen, won Korea Selatan melemah 0,07 persen, yuan China melemah 0,11 persen, ringgit Malaysia melemah 0,04 persen, dan baht Thailand melemah 0,31 persen.
Penguatan terhadap dolar AS terjadi pada mata uang dolar Taiwan yang menguat 0,14 persen, diikuti dolar Hong Kong yang menguat 0,01 persen dan peso Filipina menguat 0,11 persen.

Di sisi lain, mayoritas mata uang di negara maju masih bergerak variatif terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris masih terpantau stagnan dan dolar Australia menguat 0,07 persen. Sedangkan dolar Kanada melemah 0,14 persen dan franc Swiss melemah 0,01 persen.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi oleh pengumuman perusahaan farmasi asal Amerika Serikat (AS) Moderna bahwa vaksin anti-corona buatan mereka sudah siap digunakan akhir tahun ini.

Dalam uji coba sebelumnya, vaksin yang diberi nama mRNA-1273 mampu meningkatkan antibodi relawan ke level lebih tinggi ketimbang pasien yang sembuh dari serangan virus corona. Jika uji coba tahap III sukses, terbukti vaksin aman dan efektif, maka tinggal menunggu restu dari otoritas kesehatan.

Selain itu, rapat bulanan Komite Pengambil Kebijakan Bank Sentral AS (Federal Open Market Committee/FOMC) untuk menentukan suku bunga acuan juga mempengaruhi pergerakan rupiah. Mengutip CME FedWatch, probabilitas Federal Funds Rate bertahan di 0-0,25 persen adalah 100 persen dan tidak ada ruang sama sekali untuk perubahan.

“Ditambah lagi The Federal Reserve juga getol menggelontorkan uang ke pasar dengan membeli obligasi, baik yang diterbitkan pemerintah maupun korporasi. Tingginya permintaan membuat harga obligasi di Negeri Adidaya naik dan imbal hasilnya tertekan,” ucapnya dalam keterangan tertulis kepadaCNNIndonesia.com.

Sementara dari sisi internal, pergerakan rupiah masih dipengaruhi penanganan pandemi virus corona dan aktifitas ekonomi di semester II. Apabila penanganan tersebut efektif dan berjalan seiring dengan pembukaan aktivitas ekonomi, maka ekonomi bisa pulih pada kuartal ke-3 dengan pertumbuhan positif antara 0,4-1 persen dan di kuartal ke-4 akan akselerasi 2-3 persen

“Kalau skenario ini bisa dijalankan maka ekonomi Indonesia secara keseluruhan tahun ini akan tetap berada di zona positif dan ketakutan pasar bahwa Indonesia akan menuju jurang Resesi akan sirna dengan sendirinya, karena fundamental Indonesia saat ini masih cukup stabil dibandingkan fundamental masa orde baru yaitu 1998,” pungkas Ibrahim.

Dalam perdagangan sore ini, menurutnya, rupiah ditutup stagnan di level Rp14.535 dari penutupan sebelumnya di Rp14.535. Sementara dalam perdagangan besok rupiah kemungkinan akan fluktuatif dan ditutup menguat tipis di level Rp14.500 hingga Rp14.570.
(sumbercnn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *