BMKG Ungkap Ancaman Bencana Alam di RI Imbas Rossby Wave

Ekonomi Teknologi

tobapos.co– Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan cuaca buruk yang ditimbulkan akibat Ekuatorial Rossby Wave (ER) akan semakin diperparah dengan keberadaan fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) atau aliran udara basah.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal mengatakan cuaca buruk akibat Ekuatorial Rossby Wave dan MJO ini akan mengakibatkan beberapa bencana alam seperti banjir hingga tanah longsor. Baik Rossby Wave maupun MJO meningkatkan intensitas hujan.

“Meski ER memberikan dampak yang maksimum di sekitar wilayah 12-15 LU, namun pengaruhnya masih dirasakan di Indonesia berupa peningkatan intensitas hujan. Dampak fenomena ER di Indonesia akan menjadi lebih ekstrem jika terjadi bersamaan dengan aktifnya fenomena MJO pada periode dan lokasi yang sama,” kata Herizal saat dihubungi CNNIndonesia.com, Sabtu (30/5).

Herizal mengatakan Rossby Wave sejak 29 Mei telah bergeser ke arah Selatan, namun wilayah cakupannya masih termasuk Surabaya bagian Selatan, Sidoarjo, Malang, dan beberapa wilayah Jawa bagian Selatan

BMKG memprediksi Rossby Wave akan bergerak menjauhi wilayah Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Selain itu, BMKG mengatakan saat ini

“Saat ini fenomena MJO tidak sedang aktif di wilayah Indonesia. Berdasarkan hasil prediksi 3 hari ke depan (31 Mei – 1 Juni), fenomena ER akan bergerak jauh ke arah Barat dan sudah tidak lagi mencakup wilayah Indonesia, khususnya pulau Jawa,” kata Herizal.

Penjelasan Rossby Wave

Herizal menjelaskan Rossby Wave merupakan fenomena gelombang di atmosfer yang merambat di sepanjang wilayah ekuator (20LU – 20LS). Fenomena ini bergerak dengan lambat ke arah barat dengan periode perambatan berkisar antara 7 – 10 hari di wilayah Indonesia.

Dihubungi terpisah, Peneliti Petir dan Atmosfer BMKG, Deni Septiadi mengatakan Rossby merupakan gelombang skala besar (planeter) yang terbentuk akibat rotasi bumi yang propagasi rambatannya di lintang menengah sampai atas dapat mencapai ribuan kilometer.

“Gelombang ini mempengaruhi cuaca dan iklim bumi. Gelombang Rossby sebenarnya memindahkan udara hangat dari daerah tropis ke kutub dan udara dingin ke daerah tropis dalam upaya mengembalikan keseimbangan atmosfer,” kata Deni.

Gelombang Rossby berdampak pada kondisi cuaca dan iklim karena menghasilkan daerah tekanan tinggi dan tekanan rendah di sekitar permukaan dalam skala sinoptik.

“Propagasi gelombang Rossby ke arah timur juga secara tidak langsung diikuti oleh pergerakan sistem cuaca konvektif yang propagasinya bisa sangat lambat yang mengindikasikan sistem cuaca konvektif yang dapat mengarah pada cuaca ekstrem juga bertahan lebih lama,” kata Deni.

Sementara itu, MJO di Indonesia terjadi akibat interaksi antara laut dan atmosfer di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia yang mengapit Indonesia. MJO  yang berdampak pada peningkatan curah hujan disertai angin kencang dan petir.

Herizal menjelaskan  fenomena MJO sendiri merupakan fenomena yang serupa dengan fenomena gelombang ekuator, namun dengan pergerakan ke arah Timur pada kisaran periode selama 22 hari di Indonesia.

Fenomena MJO memberikan dampak yang lebih signifikan dibandingkan fenomena Rossby Wave dan fenomena gelombang ekuator lainnya karena pergerakan MJO yang lebih lambat dan cakupan wilayah terdampak yang lebih luas.

“Jika fenomena Rossby Wave terjadi bersamaan dengan fenomena MJO dan fenomena gelombang ekuator lainnya di wilayah perairan yang hangat dan lembab, maka berpotensi membentuk sirkulasi siklonik yang kemudian dapat memicu terbentuknya bibit siklon tropis di wilayah tersebut, misalnya di Samudera Hindia Barat Daya Banten,” kata Herizal(sumbercnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *