BMKG Jelaskan Fenomena Awan Unik di Langit Irak

Teknologi

tobapos.co–Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena awan unik yang muncul di langit Irak merupakan gumpalan awan Mammatus.

Ciri khas dari awan Mammatus adalah bentuknya seperti kantong atau tonjolan yang jumlahnya cukup banyak. Maka banyak orang yang menyebut awan Mammatus memiliki bentuk yang tidak lazim atau tidak biasa.

Sebelumnya, salah satu warga Kota Amedi, Irak mengabadikan fenomena alam unik berupa gumpalan awan menggantung atau bisa juga disebut Awan Mammatus ke akun Twitter pribadinya pada Selasa, 16 Juni 2020.

Kepala Subbidang Prediksi Cuaca BMKG, Agie Wandala Putra menyebut awan ini terbentuk dari dasar awan.

Menurut Agie, sebetulnya jenis awan ini sering terlihat di Indonesia dan biasanya muncul saat terjadi perkembangan awan Cumulonimbus.

Awan Cumulonimbus sendiri kata Agie merupakan jenis awan yang sering dihubungkan dengan hujan lebat dan kejadian ekstrem.

“Terkait dengan pembentukannya, sebetulnya tipikal awan ini sering juga terjadi di Indonesia, biasanya timbul saat terjadi perkembangan awan Cumulonimbus,” kata dia saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (22/6).

“Namun, karena wilayah kita memiliki sistem konveksi yang besar sehingga friksi angin (gesekan) yang dapat membentuk awan Mammatus jarang muncul,” sambung Agie.

Lebih lanjut kata Agie, friksi angin tersebut bisa juga disebut pola turbulensi kecil di bawah awan Cumulonimbus sehingga bentuk awan Mammatus jadi bervariasi, bisa lonjong, bulat bahkan bentuknya acak.

Lalu penyebab bentuk awan Mammatus beragam karena jenis awan ini sulit tumbuh secara vertikal karena sistem turbulensi kecil di bawah awan Cumulonimbus yang membuat Mammatus tidak dapat tumbuh ke atas atau cenderung merata.

Jika awan ini muncul, kondisi cuaca yang ditimbulkan kata Agies akan terjadi hujan lebat.

“Kalau kondisi cuaca yang ditimbulkan biasanya dalam beberapa waktu akan terjadi hujan lebat karena ciri yang ditimbulkan awan tersebut adalah terbentuk dari kondisi atmosfer yang tidak stabil. Artinya, potensi hujan akan tinggi ketika atmosfer tidak stabil. Dalam beberapa kasus di negara yang berada di lintang tinggi, bisa turun salju atau es,” jelas Agie.

Agie pun menjelaskan bahwa awan Mammatus bagian dari keluarga awan rendah karena berada di bawah awan Cumulonimbus dan Stratocumulus tetapi jika berdasarkan bentuknya, awan ini juga bisa masuk ke keluarga awan menengah seperti Altocumulus.

“Di Indonesia mungkin malah bisa terlihat di sekitaran awan yang timbul karena faktor kondensasi dari partikel abu vulkanik juga. Satu hal bahwa ini termasuk jenis awan yang menarik dari sisi fotografi,” tuturnya.

Ditanya terkait apakah ada dampak signifikan jika ada pesawat yang melintas dan berbarengan munculnya awan Mammatus, Agie mengatakan hanya timbul goncangan ringan.

“Kalau dari penyebabnya adalah friksi akibat turbulensi yang muncul dari awan Cumulonimbus, kalau pesawat melintas di awan ini, ada kemungkinan goncangan ringan,” pungkas Agie.

(sumbercnn) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *