6 Fenomena Alam Menjelang dan Saat Ramadan 2020

Teknologi

tobapos.co– Fenomena alam tahun ini bisa dibilang cukup beragam menjelang dan saat bulan Ramadan bagi umat Muslim di seluruh dunia.

Salah satu fenomena yang cukup menghebohkan masyarakat Indonesia ialah terjadi erupsi beberapa gunung berapi seperti Gunung Anak Krakatau diiringi suara dentuman misterius.

Total ada enam gunung berapi yang erupsi pada waktu yang bersamaan yaitu Gunung Kerinci (Pulau Sumatra), Gunung Merapi dan Semeru (Pulau Jawa), Gunung Ibu dan Dukono (Maluku).

Ada juga peristiwa yang menyangkut benda-benda antariksa seperti hujan meteor dan melintasnya beberapa asteroid raksasa. CNNINdonesiamerangkum ada enam fenomena alam dalam beberapa minggu terakhir. Berikut daftarnya.

1. Erupsi Gunung Anak Krakatau dan Dentuman Misterius

Saking hebohnya erupsi Gunung Anak Krakatau, Badan Antariksa Amerika (NASA) sampai merilis gambar gunung itu saat erupsi pada 12 April 2020 dari jarak dekat menggunakan satelit Terra.

Erupsi berhasil diidentifikasi menggunakan metode Operational Land Imager (OLI) dan Multi-angle Imaging Spectroradiometer (MISR).

Berdasarkan bidikan kedua metode tersebut, terlihat gumpalan plume (fase asap) yang menjulang tinggi dan berwana putih bersih.

Asap berwarna putih itu mayoritas berisi uap dan gas. Lalu muncul juga material berwarna merah yang ditandai dengan infrared signature yang diyakini merupakan bantuan cair Anak Krakatau.

Peristiwa dentuman misterius ini terjadi juga saat keenam gunung berapi melakukan erupsi, tetapi hanya terdengar masyarakat yang tinggal di wilayah Jabodetabek.

Sampai saat ini, suara dentuman masih belum bisa terpecahkan para ahli. Banyak kalangan yang menilai dentuman berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

Menurut Kepala Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono, mengatakan kemungkinan dentuman berasal dari petir.

Namun, ia tak begitu yakin seratus persen karena petir maksimal hanya mencapai jarak 16-25 kilometer saja.

Selain itu, bunyi petir juga sangat khas dimana orang awam dengan mudah mengenalinya, sementara suara pagi itu lebih mirip dentuman yang “anatominya” berbeda dengan suara petir.

2. 10 asteroid diprediksi akan melintasi Bumi tahun ini

Pusat Studi Objek Dekat Bumi (Center for Near-Earth Object/CNEOS) dan Pusat Koordinasi Objek Dekat Bumi (NEOCC) menyebut ada 10 asteroid berukuran besar yang akan menjadi ancaman bagi Bumi tahun ini.

Kesepuluh asteroid itu antara lain Asteroid 52768 (1998 OR2), Asteroid 136795 (1997 BQ), Asteroid 163373 (2002 PZ39), Asteroid 153201 (2000 W0107), Asteroid 163348 (2002 NN4), Asteroid 2019 UO, Asteroid 388945 (2008 TZ3), Asteroid 438908 (2009 XO), Asteroid 2012 XA133, dan Asteroid 363599 (2004 FG11).

Untuk dalam waktu dekat ini, ada dua asteroid yang siap melintas yaitu 2009 XO tanggal 7 Mei dan 2008 TZ3 pada 10 Mei 2020.

Peristiwa tabrakan asteroid terakhir tercatat pada 2013. Saat itu, Meteor Chelyabinsk melesat melintasi langit Rusia dan meledak hanya 30 kilometer dari permukaan Bumi.

Kekuatan tabrakan Chelyabinsk diklaim sebesar 444 ribu ton TNT dan mampu merusak bangunan seluas 500 kilometer

3. Puncak Komet Swan dapat terlihat 18 Mei

Observatorium Bosscha menyebut bahwa fenomena luar angkasa yaitu Komet Swan dapat terlihat mulai 2-18 Mei 2020. Komet ini bisa diamati menggunakan kamera DSLR.

Komet merupakan batuan kecil yang berada di Tata Surya dan diselimuti es. Saat mendekati Matahari, komet akan melepaskan debu dan gas yang tampak seperti ekor.

Meski begitu, tidak semua komet memiliki ekor yang panjang.

Lewat unggahan di akun Instagram resminya, komet SWAN pertama kali ditemukan 10 April 2020 oleh astronom amatir asal Australia bernama Michael Mattiazzo

Komet SWAN bakal terlihat mulai pukul 05.00-05.45 WIB. Cara memotret benda langit ini adalah dengan mengarahkan kamera DSLR ke arah timur lalu ambil foto dengan ISO tinggi serta waktu bukaan sekitar 30 detik.

Pihak Bosscha pun menampilkan gambar simulasi posisi komet SWAN yang diamati di kota Bandung, Jawa Barat tanggal 2-15 Mei 2020 pukul 05.00 WIB yang berada di ketinggian antara 30 derajat sampai 10 derajat.

4. Supermoon 2020

Fenomena Supermoon atau Bulan dalam kondisi terdekat dengan Bumi sempat terjadi pada Februari 2020.

Supermoon menunjukkan penampakan Bulan yang paling besar dan terang.

Supermoon terakhir terjadi pada 21 Maret 2019. Fenomena ini bisa dilihat dengan mata telanjang. Namun, teropong bisa digunakan agar fenomena tersebut bisa terlihat lebih besar.

Tahun lalu, supermoon ini tampak sejak terbitnya bulan pukul 18:00 WIB hingga 06:00 WIB keesokan harinya bila kondisi cuaca cerah.

5. Hari Tanpa Bayangan

Bulan Maret lalu, masyarakat disuguhkan fenomena hari tanpa bayangan pada siang hari.

Kulminasi atau transit atau istiwa’ adalah fenomena ketika Matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit di suatu daerah. Saat Matahari berada di tepat di atas suatu daerah atau sama dengan lintang pengamat, fenomena ini disebut sebagai Kulminasi Utama.

Pada saat itu, Matahari akan tepat berada di atas kepala pengamat atau di titik zenit. Akibatnya, bayangan benda tegak akan terlihat “menghilang”, karena bertumpuk dengan benda itu sendiri. Karena itu, hari kulminasi utama dikenal juga sebagai hari tanpa bayangan.

Fenomena ini bakal terjadi lagi pada 8 Oktober 2020 pukul 11.40 WIB.

Lalu fase kulminasi akan kembali terjadi di Indonesia mulai 6 September 2020 di Sabang, Aceh, yang jadi titik paling utara Indonesia. Kulminasi ini berlangsung hingga 21 Oktober 2020 di Baa, NTT yang ada di titik paling selatan Indonesia.

Titik kulminasi akan terjadi bergantian di tiap kota sesuai dengan garis lintang masing-masing kota. Setiap tahun, tiap wilayah di muka Bumi bakal mengalami dua kali momen hari tanpa bayangan.

6. Hujan Meteor Eta Auquarids

Hujan meteor Eta Aquarids di Indonesia terjadi malam ini dan dapat diamati pada Rabu (6/5) dini hari dinikmati sembari santap sahur di bulan Ramadan 2020.

Sebab, puncak hujan meteor ini diperkirakan bakal terjadi pada pukul 03.00 WIB hingga sebelum Matahari terbit.

Momen hujan meteor ini terjadi ketika Bumi melewati jejak lintasan Komet Halley yang berisi batuan dan es. Jejak ekor komet itu sebagian masuk ke atmosfer Bumi dan terbakar, sehingga menyebabkan hujan meteor.

Lokasi hujan meteor ini ada di sekitar horizon timur. Hujan meteor masih bisa disaksikan hingga fajar menjelang sekitar pukul 05:34 WIB.

Waktu terbaik untuk melihat puncak hujan meteor ini di Indonesia pada Rabu dini hari (6/5) pukul 03:00 WIB, bertepatan dengan saat sahur hingga sebelum matahari terbit.

Di Jakarta, diperkirakan pada puncak hujan meteor pengamat bisa menyaksikan 34 meteor per jam. Lokasi pemantauan terbaik di tempat tanpa polusi cahaya. Kondisi itu tampaknya banyak ditemukan saat ini mengingat mayoritas membatasi aktivitas di luar rumah yang membuat polusi menurun.(sumbercnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *